MAKALAH PENDIDIKAN
MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Lembaga pendidikan Islam harus dapat menunjukkan
eksistensinya sebagai lembaga pendidikan yang mampu bersaing di era global yang
akan banyak diminati oleh pengguna lembaga pendidikan karena mampu merespon
tuntutan dan kebutuhan masyarakat secara luas. Untuk itu, lembaga pendidikan Islam
harus secepatnya berbenah diri menjadi lembaga pendidikan unggul dan efektif
serta mampu menunjukkan karakter Islaminya dalam merespons perkembangan
pendidikan dan tuntutan pengguna pendidikan khususnya pendidikan Islam. Agar
menjadi pendidikan yang unggul dan berdaya saing tinggi serta diminati oleh
masyarakat, lembaga pendidikan Islam
harus mulai berbenah diri yang berorientasi pada kebutuhan dan tuntutan
dunia global tanpa menghilangkan eksistensi dan karakteristik Islaminya. Maka
dalam makalah ini penulis mencoba memaparkan beberapa langkah-langkah dan
solusi dalam rangka merespons tuntutan dan kebutuhan lembaga pendidikan Islam
akan literatur tentang manajemen mutu pendidikan.
B.
Rumusan
Masalah
Berangkat dari latar
belakang diatas penyusun makalah merumuskan rumusan masalah sebagai media untuk
memudahkan penyajian makalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana manajemen lembaga pendidikan
islam?
2.
Bagaimana Manajemen peningkatan mutu
sekolah?
3.
Apa yang dimaksud Manajemen corporate lembaga
pendidikan islam?
4.
Bagaimana Kepemimpinan kepala sekolah dalam
meningkatkan mutu pendidikan?
C.
Tujuan
Tujuan dari
dibuatnya makalah ini adalah untuk :
1.
Mengetahui
Konsep,
Proses dan Subtstansi Manajemen
Lembaga Pendidikan Islam.
2.
Mengetahui Manajemen peningkatan mutu
sekolah.
3.
Mengetahui Manajemen corporate lembaga
pendidikan islam.
4.
Mengetahui peran kepala sekolah dalam
meningkatkan mutu pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
1.
Konsep
Manajemen Secara Umum
Manajemen berasal dari kata manage atau managiare
yang berarti melatih kuda dalam melangkahkan kakinya. Mengapa kuda? Sebab, kuda
mempunyai daya kemampuan yang hebat. Dalam pengertian manajemen terkandung dua
kegiatan, yaitu fikir (mind) dan
kegiatan tindak laku (action).[1]
Sedangkan dilihat dari bahasa Inggris, kata manajemen merupakan kata kerja to manage yang berarti mengurus,
mengatur, melaksanakan dan mengelola yang bersinonim dengan kata to hand
yang berarti mengurus; to control yang berarti memeriksa; dan to guide (memimpin). Jadi, menurut asal
kata dan leksika, kata manajemen memiliki arti sebagai pengurusan,
pengendalian, memimpin atau membimbing.[2]
2.
Konsep Manajemen Pendidikan Islam
Manajemen pendidikan pada hakikatnya adalah suatu proses penataan
kelembagaan pendidikan yang melibatkan sumber daya manusia dan nonmanusia dalam
menggerakkannya untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Proses penataan ini akan melibatkan pelaksanana beberapa fungsi manajemen yang
oleh pakar manajemen pendidikan sering disebut sebagai POAC (Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling)[3].
Empat proses ini digambarkan dalam bentuk siklus karena adanya keterkaitan
antara proses yang pertama dan berikutnya. Begitu juga setelah pelaksanaan controlling akan mendaptakan feedback yang bisa dijadikan sebagai masukan atau dasar untuk
membuat planning baru. Proses siklus
manajemen lembaga pendidikanIslam ini dapat digambarkan, sebagai berikut:
Pengelolaan sumber daya pendidikan ini
akhirnya menjadi suatu sistem dalam lembaga pendidikan. Sistem dalam hal ini
merupakan keseluruhan yang terdiri atas
bagian-bagian yang saling berinteraksi dalam suatu proses untuk mengubah
masukan (input) menjadi keluaran (output) yang biasa diistilahkan dengan input-output system.
Sistem manajemen pendidikan di Indonesia
dikenal dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS pada dasarnya merupakan
sistem manajemen dimana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting
tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri dan juga memiliki
karakteristik yang harus difahami oleh lembaga pendidikan yang menerapkannya. Karakteristik
MBS didasarkan pada input, proses, dan output.
Pertama, Output Pendidikan adalah kinerja (prestasi) sekolah.
Kinerja sekolah dihasilkan dari proses pendidikan. Output pendidikan dinyatakan
tinggi jika prestasi sekolah tinggi dalam hal akademik, nonakademik dan
prestasi lainnya seperti kinerja sekolah dan guru meningkat.
Kedua, Proses ialah berubahnya sesuatu (input) menjadi sesuatu yang lain (output). Di tingkat sekolah, proses
meliputi pelaksanaan administrasi dalam arti proses (fungsi) dan administrasi
dalam arti sempit. Sekolah yang efektif terdiri dari proses belajar mengajar
yang efektifitasnya tinggi, kepemimpinan sekolah yang kuat, pengelolaan tenaga
pendidik dan kependidikan yang efektif.
Ketiga, Input adalah sesuatu yang harus tersedia untuk
berlangsungnya proses. Input terbagi empat, yaitu Input Sumber Daya Manusia
(SDM) meliputi kepala sekolah, guru, pengawas, staf TU dan siswa; Input Sumber
Daya meliputi peralatan, perlengkapan, uang, dan bahan; Input Perangkat
(manajemen) meliputi struktur organisasi peraturan perundang-undangan,
deskripsi tugas, kurikulum, rencana dan program; Input Harapan meliputi visi,
misi, strategi, tujuan dan sasaran sekolah.[4]
Gambar 1. MBS Sebagai Suatu Sistem
Dalam manajemen pendidikan Islam
diperlukan dua aspek yang terpadu, yaitu menyatunya sikap manager dan leader
yang berciri khas Islam atau yang dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam.
Beberapa ajaran dan nilai-nilai Islam yang terkait dengan pengembangan
manajemen penidikan Islam adalah sebagai berikut:[5]
Pertama, me-manage
pendidikan Islam dimulai dengan niat. Niat adalah sesuatu yang direncanakan
dengan sungguh-sungguh untuk diwujudkan dalam kenyataan (perbuatan). Niat ini harus muncul dari hati
yang bersih dan suci, karena mengharap ridho Alloh SWT serta
ditindaklanjuti dengan mujahadah yakni berusaha dengan sungguh-sungguh
untuk mewujudkan niat dalam bentuk amal (perbuatan) dan konsisten dengan
sesuatu yang direncanakan. Setelah niat diwujudkan kemudian dilakukan dengan
muhasabah yakni melakukan control dan evaluasi terhadap rencana yang telah
dilakukan.
Kedua, Islam adalah
agama amal atau kerja (praksis). Inti ajarannya adalah bahwa hamba
mendekati dan memperoleh ridho Alloh SWT melalui kerja atau amal sholih dan dengan memurnikan sikap penyembahan hanya kepada-Nya.
Hal ini mengandung makna bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan
orientasi kerja.Nilai-nilai tersebut sepatutnya menjadi kekuatan pendorong dan
etos kerja bagi pengembangan manajemen pendidikan Islam.
Uraian
pada
kedua point tersebut menggaris bawahi adanya nilai-nilai esensial yang perlu
ditegakkan atau dijadikan watak, sikap dan kebiasaan seseorang atau kelompok dalam bekerja (termasuk
dalam manajemen pendidikan)[6].
3. Substansi Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
Manajemen
pendidikan yang diterapkan disekolah merupakan tanggungjawab kepala sekolah
yang berperan sebagai manajer. Kepala sekolah dituntut harus mampu mengelola
sekolah dengan sebaik mungkin agar bisa mewujudkan pendidikan yang bermutu
tinggi. Untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu tinggi diperlukan manajamen
pendidikan yang profesional dalam menangani sistem pendidikan mulai dari
tingkat makro (pusat), meso (wilayah/daerah) sampai tingkat mikro,
yaitu satuan pendidikan sekolah dan luar sekolah.
Manajemen
pendidikan berkaitan erat dengan penerapan hasil berfikir rasional untuk
mengorganisasikan kegiatan yang menunjang pembelajaran. Kegiatan-kegiatan yang
berkaitan erat dengan pembelajaran perlu direncanakan dan dikelola dengan
sebaik mungkin. Untuk merencanakan dan mengelola agar bisa mencapai tujuan yang
diharapkan, seorang manager harus mempunyai kemampuan konseptual (conseptual
skill), kemampuan teknis (technical skill), dan hubungan insani (human
skill).
Manajemen
pendidikan meletakkan kajian pada berbagai unsur manajemen yang bertujuan untuk
mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Tujuan pendidikan
berkaitan erat dengan tujuan intruksional, kurikuler, institusional hingga pada
tujuan nasional yang diatur oleh undang-undang No 20 tahun 2003. Oleh karena
itu, manajemen personalia, kesiswaan, kurikulum, dan pembelajaran merupakan
substansi manajemen pendidikan yang harus mendapatkan perhatian yang lebih
supaya pendidikan bisa dicapai secara maksimal (efektif dan efisien).
Berkaitan
dengan substansi manajemen pendidikan dibawah ini, para
pakar manajemen pendidikan mempunyai perbedaan pandangan dalam merumuskannya.
Hal ini disebabkan perbedaan sudut pandang yang mereka miliki dan hasil
pengamatan yang berbeda terhadap berbagai objek pendidikan yang telah mereka
kaji, salah satunya ialah Sutisna (1985) yang menjelaskan substansi manajemen
pendidikan, antara lain: (a) program pendidikan,(b) murid,(c)personalia,(d)kantor,(e)sekolah,(f)keuangan
sekolah,(g)pelayanan bantu,(h) hubungan masyarakat.
Berdasarkan
penjelasan tentang substansi manajemen pendidikan, maka hal tersebut berkaitan
erat dengan substansi inti manajemen pendidikan secara umum, antaralain (1)manajemen
kurikulum dan pembelajaran (2)manajemen kelas (3)manajemen peserta didik (4)manajemen
sarana dan prasarana (5)manajemen sumber daya manusia (6)manajemen keuangan (7)manajemen
hubungan sekolah dengan masyarakat.
a.
Manajemen
Kurikulum dan Pembelajaran
Manajemen kurikulum merupakan substansi manajemen inti yang harus ada dan
dilaksanakan disekolah/madrasah. Prinsip dasar manajemen kurikulum ini adalah
berusaha agar proses pembelajaran dapat berjalan dnegan baik, dengan tolak ukur
pencapaian tujuan oleh siswa dan mendorong guru untuk menyusun dan terus
menerus menyempurnakan strategi pembelajarannya. Tahapan manajemen kirikulum
madrasah/sekolah dilakukan melalui empat tahap; 1) tahap perencanaan, 2) tahap
pengembangan, 3) tahap implementasi atau pelaksanaan, 4) tahap penilaian.
Adapun manajemen pembelajaran berkaitan erat dengan bagaimana seorang guru
merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan mengadakan evaluasi terhadap
proses pembelajaran. Proses pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses
interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan guru, dan siswa dengan siswa
dalam satu kegiatan belajar mengajar.
b.
Manajemen
kelas
Kelas dapat diartikan sebagai ruangan belajar dan
renungan belajar (depdikbud, 1995;1). Kelas juga dapat dipandang sebagai
kegiatan belajar yang diberikan oleh guru dalam suatu tempat, ruangan, tingkat
dan waktu tertentu.
Berkaitan dengan manajemen kelas, ada beberapa pandangan
yang dapat dijadikan sebagai rujukan dalam mengelola kelas. Diantaranya:
1)
Pandangan
otoriter, menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah proses mengontrol tingkah
laku siswa yang bersifat otoritatif sebagai aktifitas guru untuk menciptakan
dan memepertahankan ketertiban suasana kelas.
2)
Pandangan
permisif yang memberikan kebebasan pada peserta didik untuk berbuat apa saja
yang diinginkannya dan merupakan seperangkat aktifitas guru dalam mengoptimalkan
kebebasan peserta didik.
3)
Pandangan
tingkah laku yang didasarkan pada prinsip-prinsip perubahan tingkah laku yang
menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah pengubahan tingkah laku peserta didik
yang dikehendaki oleh tujuan belajar berdasarkan penerapan prinsip-prinsip yang
diambil dari teori penguatan.
4)
Pandangan
hubungan interpersonal yang menyatakan bahwa pengelolaan kelasmerupakan proses
penciptaan iklim sosioemosional yang positif didalam kelas.
5)
Pandangan
sistem sosial/kelompok, yang menyatakan bahwa kelas merupakan sistem sosial
dengan proses kelompok (group proces) sebagai intinya (Cooper, 1977;
Depdikbud,1982; Wicaksono;1985).
c.
Manajemen
Peserta Didik
Manajemen peserta didik juga menduduki posisi yang sangat
penting dan perlu mendapatkan perhatian serta penanganan yang serius, karena
keberadaannya merupakan layanan sentral untuk mendapatkan mutu pendidikan yang
handal. Manajemen peserta didik merupakan suatu layanan yang memusatkan
perhatian pada pengaturan, pengawasan dan layanan siswa di kelas dan diluar
kelas, seperti pengenalan, pendaftaran, layanan individual yang berkaitan
dengan pengembangan keseluruhan kemampuan, minat dan kebutuhan sampai ia betah
di sekolah (Knezevich,1961).
Ruang lingkup
manajemen peserta didik berkaitan erat dengan hal-hal berikut:
a)
Perencanaan
peserta didik
b)
Penerimaan
peserta didik baru
c)
Pengelompokan
peserta didik
d)
Kehadiran
peserta didik di sekolah
e)
Pembinaan
disiplin peserta didik
f)
Kenaikan
kelas dan penjurusan
g)
Perpindahan
peserta didik
h)
Kelulusan
dan alumni
i)
Kegiatan
ekstra kelas
j)
Organisasi
peserta didik
d.
Manajemen
Sarana dan Prasarana Pendidikan
Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikandapat
didefinisikan sebagai proses kerjasama dalam melaksanakan pendayagunaan semua
sarana dan prasarana yang ada di lembaga pendidikan secara efisien dan efektif.
Tujuan dari pengelolaan sarana dan prasarana sekolah adalah memberikan
layanan secara profesional berkaitan dengan sarana dan prasarana pendidikan
agar proses pembelajaran bisa berjalan secara efektif dan efisien. Berkaitan
dengan tujuan ini, Bafadal (2003) menjelaskan secara rinci tentang tujuan
manajemen sarana dan prasarana pendidikan sebagai berikut:
a)
Untuk
mengupayakan pengadaan sarana dan prasrana sekolah melalui sistem perencanaan
dan pengadaan yang hati-hati dan seksama sehingga sekolah memiliki sarana dan
prasarana yang baik, sesuai dengan kebutuhan sekolah dan dengan dana yang
efisien.
b)
Untuk
mengupayakan pemakain sarana dan prasarana sekolah secara tepat dan efisien.
c)
Untuk
mengupayakan pemeliharaan sarana dan prasrana pendidikan sehingga selalu dalam
kondisi siap pakai kapanpun juga.
Dalam mengelola sarana dan prasaran sekolah, terdapat sejumlah prinsip yang
perlu diperhatikan agar tujuan bisa tercapai secara maksimal. Prinsip-prinsip
tersebut sebagai berikut:
a)
Prinsip
pencapaian tujuan, yaitu sarana dan prasaran pendidikan harus selalu dalam
kondisi siap pakai bila mana akan didaya gunakan oleh personal sekolah demi
pencapaian tujuan proses pembelajaran.
b)
Prinsip
efisiensi, yaitu pengadaan sarana dan prasarana pendidikan harus dilakukan
melalui perencanaan yang seksama agar dapat memenuhi standar kualitas yang baik
dengan harga murah.
c)
Prinsip
administratif, yaitu manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus
selalu memerhatikan undang-undang, peraturan, instruksi dan petunjuk teknis
yang diberlakukan oleh pihak yang berwenang.
d)
Prinsip
kejelasan tanggung jawab, yaitu manajemen sarana dan prasarana pendidikan harus
didelegasikan kepada personal sekolah yang mampu bertanggung jawab.
e)
Prinsip
kekohesifan, yaitu manajemen sarana dan prasarana harus direalisasikan dalam
bentuk proses kerja sekolah yang sangat kompak (Bafadal, 2003).
e.
Manajemen
Sumber Daya Manusia
Manajemen disebut sebagai seni dalam menyelesaikan
pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini mengandung maksud bahwa para manajer
dalam melaksanakan aktifitas manajemen selalu bekerja sama dengan orang lain.
Kegiatan kerjasama dilakukan oleh manajer dengan staff. Perlu adanya seni dalam
mengaturnya agar tujuan organisasi bisa tercapai dengan baik. Dalam hal ini,
manajer harus mempunyai kemampuan untuk menciptakan hubungan manusiawi (human
skill) yang baik sehingga dapat diterima oleh semua pihak.
f.
Manajemen
Keuangan Sekolah atau Madrasah
Peningkatan kualitas pendidikan bukanlah tugas yang
ringan karena tidak hanya berkaitan dengan permasalahan teknis, tetapi mencakup
berbagai persoalan yang sangat rumit dan kompleks, baik berkaitan dengan
perencanaan, pendanaan, maupun efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan sistem
persekolahan. Peningkatan kualitas pendidikan juga menuntut manajemen
pendidikan yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Balitbang
Dikbud (1991) menunjukan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi kualitas pendidikan.
Penggunaan
keuangan berdasarkan pada prinsip-prinsip: 1) Hemat, tidak mewah, efisien dan
sesuai dengan kebutuhan teknis yang disyaratkan. 2) Terarah dan terkendali
sesuai dengan rencana, program/kegiatan. 3) Keharusan penggunaan kemampuan.
g.
Manajemen
Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Hubungan antara sekolah dengan masyarakat pada hakikatnya
adalah suatu sarana yang cukup berperan dalam menentukan usaha mengadakan
pembinaan, pertumbuhan dan perkembangan peserta didik di sekolah (Indra
Fachrudi, 1989).
Tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat selain untuk memajukan kualitas
belajar dan pertumbuhan anak, juga untuk memperkokoh tujuan, memajukan kualitas
kehidupan masyarakat dan menggairahkan masyarakat dalam membantu program
bantuan sekolah dan masyarakat disekolah (Elsbree, 1959; Kindred, 1967; Unruh dan
Willier, 1974)
Jones (1969)menjelaskan terdapat lima cara untuk
mengadakan hubungan dengan masyarakat, antara lain: 1. melalui
aktifitas-aktifitas para siswa dalam bentuk kurikuler 2. aktifitas-aktifitas
pengajar 3. ekstra kurikuler 4. kunjungan masyarakat atau orang tua ke lembaga
pendidikan 5. melalui media masa.
B.
Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah/Madrasah
Pendidikan yang bermutu adalah
pendidikan yang menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan atau kompetensi.
Baik kompetensi akademik maupun kompetensi kejuruan, yang dilandasi oleh
kompetensi personal dan sosial, yang secara menyeluruh disebut sebagai
kecakapan hidup (life skill).
Pendidikan kecakapan hidup adalah pendidikan bermutu, baik quality in fact maupun quality
in perception (Sudrajat, 2005: 17). Untuk dapat meningkatkan mutu
pendidikan, madrasah harus dapat melaksanakan pengelolaan yang didasarkan pada
peningkatan mutu pendidikan madrasah.[7]
Aplikasi
manajemen peningkatan mutu pendidikan terhadap sekolah maupun madrasah
didasarkan atas pemikiran bahwa para administrator dan manager pendidikan perlu
menemukan kerangka kerja yang muncul dari dalam lembaga.
Dalam
meningkatkan mutu pendidikan, Benner (1992) mengidentifikasi prinsip-prinsip
mendasar tentang mutu, yaitu (1) definisi kualitas lebih mengacu pada konsumen,
bukan pada pemasok, (2) konsumen adalah seorang yang memperoleh produk atau
layanan, seperti mereka yang secara internal dan eksternal terkait dengan
organisasi dan bukannya “pembeli” atau “pembayar”, (3) mutu harus mencakupi
persyaratan kebutuhan dan standar. (4) mutu dicapai dengan mencegah kerja yang tidak
memenuhi standar, bukannya
dengan melacak kegagalan, melainkan dengan peningkatan layanan dan produk yang terus-menerus,
(5) peningkatan mutu dikendalikan oleh manajemen tingkat senior, tetapi semua
yang terlibat di dalam organisasi harus ikut bertanggung jawab, mutu harus
dibangun dalamsetiap proses, (6) mutu diukur melalui proses statistik, anggaran
mutu adalah anggaran biaya yang tidak disesuaikan dengan tuntutan persyaratan
sehingga terjadi “kesenjangan” antara penyerahan barang, (7) alat yang paling ampuh
untuk menjamin terjadinya mutu adalah kerja sama (tim) yang efektif, dan (8)
pendidikan dan pelatihan merupakan hal yang fundamental terhadap organisasi
yang bermutu.
Peningkatan
mutu harus bertumpu pada lembaga pendidikan untuk secara terus-menerus dan
berkesinambungan untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan organisasinya guna
memenuhi tuntutan dan kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Dalam menajemen
peningkatan mutu terkandung upaya : (1) mengendalikan proses yang berlangsung
di lembaga pendidikan, baik kurikuler maupun
administrasi, (2) melibatkan proses diagnosis dan proses tindakan untuk
menindaklanjuti diagnosis, (3) peningkatan mutu harus didasarkan atas data dan
fakta, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif, (4) peningkatan mutu
harus dilasanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan,
(5) peningkatan mutu harus memberdayakan dan melibatkan semua unsur yang ada di
lembaga pendidikan, dan (6) peningkatan mutu memiliki tujuan yang menyatakan
bahwa sekolah atau madrasah dapat memberikan kepuasan kepada peserta didik,
orangtua, dan masyarakat (Mantja, 2002:30).[8]
Membahas
konsep manajemen lembaga pendidikan Islam akan timbul beberapa asumsi pemahaman
tentang penyelenggaraan lembaga pendidikan Islam itu sendiri. Hal ini
disebabkan lembaga pendidikan Islam mempunyai karakteristik tersendiri sesuai
dengan core value yang dikembangkan.
Nilai-nilai inti yang menjadi ajaran Islam inilah yang akan mewarnai proses
pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan Islam. Perilaku menajerial dalam
mengelola lembaga pendidikan Islam harus senantiasa didasarkan pada
ajaran-ajaran Islam yang bersunber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits
serta praktik-praktik keteladanan yang diberikan oleh para ulama dan pemimpin Islam.
Penjelasan
tentang konsep manajemen lembaga pendidikan Islam sangat di pengaruhi oleh
beberapa asumsi yang mendasari dalam sistem pengelolaannya. Asumsi-asumsi yang
di maksud antara lain : (1) teori-teori yang digali dari sumber dan khazanah ke-Islaman;
(2) teori-teori yang manajemen yang dikembangkan dalam dunia bisnis dan
pendidikan secara umum yang ada pada saat ini; (3) teori-teori manajemen yang
telah berkembang dalam dunia bisnis dan pendidikan secara umum dengan
menjadikan Islam sebagi nilai untuk memandu dalam proses penelenggaraan
pendidikannya.
Ketiga
asumsi tersebut, yang perlu di perhatikan
adalah bagaimana kita dapat mengelola lembaga
pendididkan Islam dengan baik sehingga menjadi bermutu dan berkualitas sesuai
dengan visi dan misi yang ingin dicapai. Manajemen disini pada hakikatnya merupakan kegiatan yang
dilaksanakan untuk menata lembaga pendidikan Islam dengan melibatkan seluruh
sumber daya manusia dan nonmanusia dalam mencapai tujuan yang
telah ditetapkan secara efektif dan efisien di lembaga pendidikan Islam.[9]
C.
Manajamen Corporatedalam Lembaga
PendidikanIslam
Corporatepada dasarnya
adalah suatu bentuk usaha kerjasama. Korporasi produksi pendidikan terdiri
dari penyelenggara peserta, dan pengguna hasil pendidikan dengan peran yang
berbeda (Musa, 2008:139).
Penyelenggara pendidikan adalah satuan pendidikan yang didirikan
oleh pemerintah atau masyarakat swasta, didukung oleh pemimpin (seperti rektor,
dekan, ketua, direktur, dan kepala sekolah), pendidik (guru dan dosen) dan
tenaga pendukung administrasi kontribusi dan peran penyelenggara dalam bentuk dana
investasi dan operasional, guru dan tenaga kependidikan, sarana belajar, kurikulum,
dan fasilitas pendukung yang diperlukan bagi terlaksananya kegiatan pembelajaran,
yaitu produksi kompetensi.[10]
Komponen korporasi pendidikan kedua adalah peserta didik yang
bekerjasama secara langsung dengan pendidik dalam melaksanakan transformasi
ilmu pengetahuan yang dikaji sehingga menjadi sebuah kompetensi yang harus
dimiliki oleh peserta didik. Alumni dikelompokkan kedalam komponen peserta
didik yang berfungsi sebagai katalisator efektifitas dan efisiensi proses produksi
kompetensi sesuai dengan pengalaman dan kebutuhan dunia kerja kependidikan dan
nonkependidikan.
Komponen korporasi ketiga adalah penggunaan kompetensi hasil
pendidikan yaitu orang tua dan keluarga peserta didik, masyarakat,
dunia kerja, bangsa, dan Negara. Stakeholder
pendidikan ini sangat mengharapkan proses produksi yang ada dalam lembaga
pendidikan bisa berjalan dengan baik dan berkualitas sehingga
bisa menghasilkan output yang
bermutu. Mutu produksi data dijadikan sebagai jaminan yang bisa diberikan
kepada stakeholder pendidikan
sehingga tidak enggan lagi untuk memberikan bantuan dalam bentuk dana maupun
sarana dan prasarana yang bisa dijadikan sebagai penunjang dalam melaksanakan proses
pendidikan dan pengajaran.
Dalam iklim yang kompetitif sekarang ini sulit dibagi organisasi
untuk dapat hidup dengan baik jika tidak memiliki kemampuan untuk merubah hidup
diri dengan cepat dan mampu berkembang seiring dengan berbagai tuntunan stakeholder. Kondisi ini berlaku hampir
pada keseluruhan organisasi baik yang bersifat profit maupun organisasi yang
bersifat non-profit. Sekolah atau madrasah sebagai lembaga pendidikan yang termasuk
lembaga nonprofit juga tidak terlepas dari fenomena ini. Itulah sebabnya dalam
lembaga pendidikan harus mengetahui berbagai harapan dan kebutuhan stakeholder.
Pemerintah dalam hal ini telah memberikan regulasi kepada lembaga
pendidikan untuk selalu menyertakan stakeholder
dalam seluruh kegiatan melalui apa yang disebut dengan komite sekolah.[11]
Secara alamiah proses hidup atau matinya suatu organisasi selalu
tergantung kepada kemampuan organisasi memenuhi manajemen pendidikan. Demikian
pula dengan sekolah harus selalu mampu mengidentifikasi kebutuhan stakeholder. Namun
demikian, sebelum sekolah mengidentifikasi harapan dan kebutuhan stakeholder,
sekolah harus mampu menentukan terlebih dahulu siapa-siapa yang menjadi stakeholdernya.
Bahkan lebih jauh dari itu, madrasah juga
harus mampu mengidentifikasi siapa yang menjadi stakeholder potensialnya.
Kondisi ini diperlukan karena tidak setiap organisasi memiliki produk atau
layanan yang dapat atau cocok
diperuntukan bagi semua orang. Oleh karena itu setiap organisasi harus
mengetahui sasaran utama dari produk/layanan yang diberikannya.[12]
D.
Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
Madrasah
sebagai lembaga pendidikan Islam harus dikelola dengan baik agar menjadi
berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi terhadap lembaga pendidikan
lainnya. Untuk mewujudkan madrasah yang berkualitas, sangat dibutuhkan kepala
madrasah yang kreatif dan inovatif serta mampu menggerakkan seluruh sumber daya
yang berkualitas dalam mencapai visi dan misi madrasah. Kepala madrasah sebagai
manager harus mampu mengelola
madrasah dengan baik dan penuh tanggung jawab serta dapat memberdayakan sumber
daya manusia dan nonmanusia yang ada di madrasah dalam mencapai tujuan secara
efektif dan efisien.[13]
Suatu
organisasai akan berhasil dalam mencapai tujuan dan program-programnya jika
orang-orang yang bekerja dalam organisasi tersebut dapat melaksanakan tugasnya
dengan baik sesuai dengan bidang dan tanggung jawabnya. Agar orang-orang dalam
organisasi tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, diperlukan seorang
pemimpin yang dapat mengarahkan segala sumber daya menuju ke arah
pencapaian tujuan. Dalam suatu organisasi, berhasil atau tidaknya tujuan
tersebut sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu pemimpin dan orang yang
dipimpinnya. Agar kepemimpinan yang dilaksanakan oleh pemimpin tersebut efektif
dan efisien, salah satu tugas yang harus dilakukan adalah memberikan kepuasan
kepada orang yang dipimpinnya.[14]
Untuk
mendukung efektifitas dan efisiensi kinerjanya, seorang kepala sekolah/madrasah
harus memiliki beberapa kompetensi khusus diantaranya:
i.
Kompetensi
Profesional
Kepala
sekolah/madrasah dituntut mempunyai kompetensi profesional sebagai pemimpin dan
manajer di sekolah supaya dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya yang
berkaitan dengan kepemimpinan pendidikan dengan sebaik mungkin termasuk di
dalamnya sebagai pemimpin pengajaran. Selain itu juga agar kepala sekolah dapat
melaksanakan tugas kepemimpinannya dengan seefektif mungkin untuk mewujudkan
visi, misi dan tujuan yang diemban dalam mengoperasikan sekolah.
Kepala
sekolah sebagai pemimpin pendidikan mempunyai tugas dalam menjalankan manajemen
yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi.
Dengan demikian, kepala sekolah mempunyai peran yang sangat penting dan menjadi
kunci atas keberhasilan terhadap sekolah yang dipimpinnya.
Kompetensi
profesional kepala sekolah pada hakekatnya berkaitan erat dengan :
1.
Kepala
sekolah/madrasah sebagai pemimpin (leader) pendidikan
Kompetensi kepala sekolah sebagai leader sebagaimana
dijabarkan dalam standar kompetensi kepala sekolah SMP sebagai berikut: (a)
menyusun perencanaan sekolah, (b) mengelola kelembagaan sekolah, (c) menerapkan
kepemimpinan dalam pekerjaan, (d) mengelola tenaga kependidikan, (e) mengelola
sarana dan prsarana, /(f) mengelola hubungan sekolah dengan masyarakat, (g)
mengelola sistem informasi sekolah, (h) mengelola kesiswaan, (i) mengelola
pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar, (j) mengelola ketata
usahaan dan keuangan sekolah, (k) menerapkan prinsip-prinsip kewirausahaan, (l)
menerapkan kemajuan IPTEK dalam pendidikan, (m) menciptakan budaya dan iklim
kerja yang kondusif, (n) melakukan supervisi, (o) melakukan evaluasi dan
pelaporan.
2.
Kepala
sekolah/madrasah sebagai administrator dan manajer pendidikan
Sebagai administrator modern, kepala sekolah harus
menggunakan prinsip pengembangan dan pendayaagunaan organisasi secara
kooperatif dan aktivitas yang melibatkan keseluruhan personil sekolah dan
masyarakat. Secara konkrit, pelaksanaan tugas dan fungsi manajer pendidikan,
erat dengan substansi manajemen pendidikan yang meliputi; kurikulum dan
pengajaran, manajemen kelas, peserta didik, SDM, sarana dan prasarana,
keuangan, dan keterlibatan masyarakat dalam pendidikan.
kepala sekolah sebagai supervisor dibebani
peran tanggung jawab mementau, membina dan memperbaiki proses pembelajaran di
kelas atau di sekolah. tanggung jawab ini dalam pustaka dikenal dan
dikategorikan sebagai tanggung jawab supervisi. dari konsep supervisi sebagai
proses membantu guru guna memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran dan
kurikulum.
4.
Kepala
sekolah/madrasah sebagai pendidik
5.
Kepala
sekolah/madrasah sebagai wirausahawan (entrepreneur)
Peran
kepala sekolah sebagai entrepreneur didasarkan pada PP No. 19 tahun 2005
pasal 38 yang menjelaskan bahwa kepala sekolah harus memiliki kemampuan
kepemimpinan dan kewirausahaan. Kemampuan entrepreneur ini mengharuskan
kepala sekolah agar dapat menerapkan prinsip-prinsip kewirausahaan di sekolah. Prinsip-prinsip
kewirausahaan ini berkaitan erat dengan hal-hal berikut: (1) bertindak kreatif
dan inovatif meliputi menciptakan pembaharuan, menggunakan metode teknik dan
proses perubahan sekolah, menciptakan program inovasi dan kreatifitas,
menciptakan keunggulan kooperatif dan mempromosikan sekolah. (2) memberdayakan
potensi sekolah. (3) menumbuhkan jiwa kewirausahaan warga sekolah meliputi
menumbuhkan iklim yang mendorong bebas berfikir untuk menciptakan kreatifitas
dan inovasi, mendorong warga sekolah untuk melakukan eksperimentasi dan
memberikan reward atas hasil kreatifitas warga sekolah.
6.
Kepala
sekolah/madrasah sebagai pencipta iklim kerja
7.
Kepala
sekolah/madrasah sebagai penyelia (supervisor)
ii.
Kompetensi
Wawasan Kependidikan Dan Manajemen
Kompetensi
wawasan kependidikan dan manajemen yang harus dimiliki oleh kepala sekolah
berkaitan erat dengan : (1) menguasai landasan pendidikan (2) menguasai
kebijakan pendidikan (3) menguasai konsep kepemimpinan dalam tugas,
peran dan fungsi kepala sekolah.
Kepala
sekolah sebagai pemimpin dan manajer di sekolah harus mampu mengadakan perbaikan
pendidikan yang dipimpinnya. Perbaikan mutu pendidikan, harus diiringi dengan
penataan kelembagaan dengan manajemen yang efektif dan efisien. Oleh karena
itu, setiap pemimpin pendidikan dituntut bisa mengelola lembaganya dengan baik
sehingga bisa menjadi lembaga pendidikan yang maju dan kompetitif. Lembaga
pendidikan yang majuakan mampu berkembang dengan baik dan bisamenghasilkan output
yang berkualitas.
iii.
Kompetensi Kepribadian
Kompetensi
kepribadian yang harus dimiliki oleh kepala sekolah sebagaimana dijelaskan
dalam standar kompetensi kepala sekolah adalah sebagai
berikut:
a)
Bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa
b)
Berakhlak mulia
c)
Memiliki etos
kerja yang tinggi meliputi disiplin dalam bekerja, bersemangat, meiliki rasa
percaya diri, berinisiatif, kreatif, tekun dan cekatan dalam bekerja.
d)
Bersikap
terbuka mau menerima saran dan kritik
e)
Berjiwa
pemimpin
f)
Mampu
mengendalikan diri meliputi memiliki stabilitas emosi, hati-hati, cermat,
teliti dan tidak mudah putus asa.
g)
Mampu
mengembangkan diri untuk meningkatkan kemampuan dan memiliki rasa keingintahuan
yang tinggi.
h)
Memiliki
integritas kepribadian meliputi dapat dipercaya, jujur, konsisten antara ucapan
dan perbuatan, memiliki komitmen yang tinggi, berdedikasi tinggi dan tegas
dalam bersikap dan bertindak.
Pengembangan
kompetensi kepribadian dalam praktik kepemimpinan, kepala sekolah dituntut
mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi karena mempunyai peran yang sangat
penting dalam menjalankan tugas-tugas kepemimpinannya. Kecerdasan emosional (emmosional
intellegence) kepala sekolah merupakan kemampuan mengenali perasaan dan
memotivasi diri serta mengelola emosi secara tepat, baik yang ada pada diri
sendiri maupun orang lain untuk mengolah informasi dalam hubungan
interpersonal.
iv.
Kompetensi Sosial
Kompetensi
sosial yang harus dimiliki oleh kepala sekolah sebagaimana dijelaskan dalam
standar kompetensi sekolah antara lain : (1) mampu bekerja sama dengan orang
lain, (2) berpartisipasi dalam kegiatan kelembagaan/sekolah, (3) berpartisipasi
dalam kegiatan kemasyarakatan dan berperan aktif dalam kegiatan sosial
kemasyarakatan.
Untuk
menjadi kepala sekolah yang sukses dalam menjalankan kepemimpinannya,
harus mempunyai kompetensi sosial salah satunya adalah terampil dalam
berkomunikasi yang efektif sehingga dapat mengubah perilaku staff, guru dan
peserta didik di sekolah. Untuk mengubah perilaku tersebut, kepala sekolah
memerlukan kemampuan dan seni mempengaruhi. Seni mempengaruhi sangat penting
dimiliki oleh kepala sekolah, karena salah satu dari fungsi kepemimpinan adalah
mempengaruhi orang lain untuk diajak bekerja sama dalam mencapai tujuan sekolah
secara efektif dan efisien.
Kompetensi
sosial dalam kecerdasan emosional seorang pemimpin menurut Goleman (1995)
adalah pertama, menghargai diri sendiri (self respect). Kompetensi
ini tidak lain adalah meningkatkan kecakapan pribadi yaitu mengolah kecakapan
diri sendiri. Prinsipnya, orang dianggap dapat menghargai dirinya
jika mampu mengelola dirinya sendiri untuk memenuhi nilai-nilai kehidupan yang
hakiki. Hal ini meliputi kesadaran diri, pengaturan diri dan motivasi. Kedua,
menghargai orang lain (respect to others) dengan kecakapan sosial dalam
kerangka kecerdasan emosional. Orang dianggap mampu menghargai orang lain jika
ia memiliki kecakapan untuk menentukan bagaimana kita menangani suatu hubungan
dengan orang lain. Hal ini meliputi empati, keterampilan sosial yakni dapat
menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain, cermat dalam
membaca situasi dan jaringan sosial serta berinteraksi dengan lancer.
Demikianlah beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh
seorang kepala sekolah/madrasah yang akan mendukung terlaksananya proses
manajemen dengan baik dan
[1]Kedua kegiatan tersebut, tampak fungsi-fungsi
manajemen seperti planning, organizing, directing, coordinating,
controlling, dll.
[4]Baharuddin dan Umiarso. Kepemimpinan Pendidikan Islam. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media. 2012.
Hal 114-115.
[14]Baharuddin dan Umiarso. Kepemimpinan Pendidikan Islam. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media. 2012.
Hal 425
.jpg)
(Ans)
BalasHapusTerimakasih untuk informasinya.
Sertifikasi ISO
terimakasih ya,,,,, bisa sebagai bahan bacaan dan referensi matakuliah,,, semoga terus berkarya ya
BalasHapusIzin copy ya kak... buat tugas ngerangkum, hehe
BalasHapusmakasih kak...