MAKALAH PENDIDIKAN
LINGKUNGAN DAN ATMOSFR PENDIDIKAN ISLAM
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim.
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah Ta’ala yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat
serta salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah membawa kita dari zaman kebodohan menuju modern sehingga
kita biasa membedakan antara yang baik dan yang buruk. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu atas terselesaikannya makalah ini yang berjudul
“Lingkungan Pendidikan Islam”
Semoga dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan yang tentunya memiliki
nilai-nilai kebaikan yang sangat tinggi. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
kita semua.
Dan akhirnya
tiada gading yang tak retak, demikianlah pepatah mengatakan.
Oleh sebab itu, kami menyadari bahwa penulisan makalah ini banyak kekurangannya
dan masih jauh dari kesempurnaan. Maka kami
mengharapkan atas saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca demi penulisan yang lebih baik ke depannya.
Bogor, November 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
Hal
Kata
Pengantar.................................................................................................................... 1
Daftar
Isi............................................................................................................................. 2
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang.......................................................................................... 3
B.
Rumusan Masalah..................................................................................... 3
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Pengertian Lingkungan Pendidikan Islam................................................ 4
B.
Pandangan
Islam tertang Lingkungan....................................................... 6
C.
Macam-macam
Lingkungan Pendidikan Islam ........................................ 7
D.
Pengaruh Timbal Balik antara Tripusat Pendidikan
Terhadap Perkembangan Peserta Didik 15
BAB III PENUTUP
Kesimpulan .................................................................................................... 16
DAFTAR
PUSTAKA ........................................................................................................ 17
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan merupakan faktor utama
dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk
baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Disisi lain proses
perkembangan dan pendidikan manusia tidak hanya terjadi dan dipengaruhi oleh
proses pendidikan yang ada dalam sistem pendidikan formal (sekolah) saja.
Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah,
dan masyarakat luas. Ketiga lingkungan itu sering disebut sebagai tripusat
pendidikan. Dengan kata lain proses perkembangan
pendidikan manusia untuk mancapai hasil yang maksimal tidak hanya tergantung
tentang bagaimana sistem pendidikan formal dijalankan. Namun juga tergantung
pada lingkungan pendidikan yang berada di luar lingkungan formal.
B.
Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan dibahas dan dijabarkan
tentang:
1. Pengertian lingkungan pendidikan Islam.
2. Pandangan Islam terhadap lingkungan pendidikan
3. Macam-macam lingkungan pendidikan.
4. Timbal balik antara tripusat pendidikan terhadap perkembangan peserta
didik
C. Tujuan Penyusunan
1.
Mengetahui pengertian
lingkungan pendidikan Islam.
2.
Mengethui bagaimana pandangan Islam terhadap lingkungan
pendidikan
3.
Mengetahui lebih dalam mengenai macam-macam lingkungan
pendidikan.
4.
Mengetahui bagaimana hubungan timbal balik antara
tripusat pendidikan terhadap perkembangan peserta didik
BAB II
PEMBAHASAN
A
Pengertian Lingkungan
Pendidikan Islam
Secara harfiah
lingkungan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mengitari kehidupan baik
berupa fisik seperti alam jagat raya dengan segala isinya, ataupun berupa nonfisik
seperti suasana kehidupan beragama, nilai-nilai dan adat istiadat yang berlaku
di masyarakat, ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang berkembang, serta
teknologi. Kedua lingkungan tersebut hadir secara kebetulan,
yakni tanpa diminta dan direncanakan
oleh mansusia.[1]
Lingkungan pendidikan juga didefinisikan sebagai suatu institusi atau
kelembagaan tempat pendidikan itu berlangsung. Dalam beberapa sumber bacaan kependidikan,
jarang dijumpai pendapat para ahli tentang pengertian lingkungan pendidikan
Islam. Kajian lingkungan pendidikan Islam (Tarbiyah Islamiyah)
biasanya terintegrasi secara implisit
dengan pembahasan
mengenai macam-macam lingkungan pendidikan.[2]
Namun demikian, dapat dipahami bahwa
lingkungan pendidikan Islam adalah suatu lingkungan yang di dalamnya terdapat
ciri-ciri ke-Islaman yang memungkinkan terselenggaranya pendidikan Islam
dengan baik. Dalam al-Qur’an tidak dikemukakan penjelasan
tentang lingkungan pendidikan Islam tersebut, kecuali lingkungan pendidikan
yang terdapat dalam praktik sejarah yang digunakan sebagai tempat
terselenggaranya pendidikan, seperti masjid, rumah, sanggar para sastrawan,
madrasah, dan universitas.[3]
Lingkungan
seperti itu tidak disinggung secara langsung dalam Al-Qur’an, tetapi al-Qur’an
menyinggung dan memberikan perhatian tehadap lingkungan sebagai tempat sesuatu.
Seperti dalam menggambarkan tentang tempat tinggal manusia pada umumnya,
dikenal istilah al-qaryah yang diulang dalam Al-Qur’an sebanyak 52 kali yang dihubungkan
dengan tingkah laku penduduknya. Sebagian ada yang dihubungkan dengan pendidiknya
yang berbuat durhaka lalu mendapat siksa dari Allah (lihat QS. Al-A’raf: 4; QS.Al-Isra:
16; QS.An-Naml: 34), sebagian dihubungkan pula dengan penduduknya yang berbuat
baik sehingga menimbulkan suasana yang aman dan damai (QS. An-Nahl: 112), dan
sebagian lain dihubungkan dengan tempat tinggal para nabi (lihat QS. An-Naml:
56; QS. Al-A’raf: 88; dan QS. Al-An’am: 92). Semua ini menunjukkan bahwa
lingkungan berperan penting sebagai tempat kegiatan bagi manusia, termasuk
kegiatan pendidikan Islam.
Pada
periode awal, umat Islam mengenal lembaga pendidikan berupa kuttab, yang
mana di tempat ini diajarkan membaca dan menulis huruf Al-Qur’an lalu diajarkan pula ilmu Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama lainnya. Begitu
di awal dakwah Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam ia menggunakan rumah Arqam sebagai institusi
pendidikan bagi sahabat awal (assabiqunal awwalun). Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam mengenal adanya rumah, masjid, kuttab,
dan madrasah sebgai tempat berlangsungnya pendidikan, atau disebut juga
sebagai lingkungan pendidikan.[4]
Konsep lingkungan dalam hubungannya dengan pendidikan dan
manusia sebagai makhluk yang merdeka, memiliki daya pilih yang kuat, serta
berbagai potensi jasmani, rohani, dan spiritual yang dimilikinya, telah
menimbulkan berbagai aliran yang antara satu dan lainnya menunjukkan perbedaan
yang mencolok. Berbagai aliran tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.[5]
1.
Aliran
empirisme atau behaviorisme dari John Locke. Menurut aliran ini,
manusia atau peserta didik dianggap sebagai gelas kosong yang dapat diisi apa
saja oleh pemiliknya. Faktor lingkungan dan atmosfer akademik sangat menentukan
keberhasilan pendidikan dan pengajaran. Dengan kata lain, bahwa setiap kali
berbicara tentang lingkungan dan atmosfer akademik, maka sesungguhnya yang
dibicarakan adalah pengaruh lingkungan dan atmosfer akademik tersebut. Pada
aliran ini guru dianggap aktif dan menentukan. Adapun murid dianggap pasif dan
ditentukan.
2.
Aliran
nativisme dari Scopenhaur. Menurut aliran ini bahwa yang menentukan
seseorang menjadi apa saja, bukanlah lingkungan sebagaimana yang dianut oleh behaviorisme
dan empirisme sebagaimana disebutkan di atas, melainkan watak,
pembawaan dan potensi yang dimiliki seorang peserta didik dari sejak lahir.
Aliran nativisme ini bertolak dari libnitzian tradition yang
menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan, termasuk
faktor pendidikan, kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak.
3.
Aliran
konvergensi. Aliran ini dirintis
oleh William Stern (1871-1979), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang
berpendapat, bahwa seorang anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan
baik dan pembawaan buruk. Penganut aliran ini berpendapat, bahwa dalam proses
perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama
mempunyai peranan yang sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak
akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan
bakat itu.
Aliran empirisme, behaviorisme, nativisme humanisme, dan
konvergensi dengan berbagai variasinya sebagaimana tersebut di atas pada
dasarnya berbicara tentang aspek yang mempengaruhi pembentukan pribadi manusia.
Adapun pada nativisme sebaliknya, yaitu bahwa yang berperan membentuk pribadi
manusia adalah pembawaanya, bukan lingkungannya. Pada empirisme yang berperan membentuk pribadi manusia ialah lingkungan,
bukan pembawaannya. Dan pada konvergensi yang berperan membentuk pribadi
manusia ialah pembawaan dan lingkungannya secara sekaligus.
Dengan mengacu pada prinsip keseimbangan yang terdapat
dalam ajaran Islam, yakni antara lahir (empirisme)
dan batin (nativisme) serta hadits
nabi yang artinya: Bahwa setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan suci, lalu
kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak tersebut menjadi penganut Yahudi,
Nasrani, dan Majusi, di kalangan para pendidik Islam, banyak yang berpendapat
bahwa dalam hal proses dan faktor yang mempengaruhi pembentukan pribadi
masusia, Islam lebih cenderung kepada aliran konvergensi sebagaimana tersebut
di atas.
Namun demikian, jika dilakukan analisis secara agak
mendalam dan seksama. Tampaknya ajaran Islam tidak menganut salah satu aliran
tersebut, karena ketiga aliran tersebut semata-mata mengandalkan pengaruh atau
faktor yang berasal dari usaha manusia sendiri. Seluruh aliran tersebut masih
memusat pada usaha manusia (anthropo-centris), dan belum melibatkan
peran Tuhan. Hal ini bertentangan dengan ideologi pendidikan Islam yang
bercorak humanisme teo-centris, yang intinya memadukan antara usaha
manusia dan pertolongan (hidayah) dari tuhan.
Dengan demikian, proses pendidikan dalam Islam dipengruhi
oleh tiga faktor, yaitu faktor pembawaan dalam diri manusia, faktor lingkungan,
dan faktor hidayah dari Allah Ta’ala.
C
Macam-macam
Lingkungan Pendidikan Islam
Pada perkembangan selanjutnya institusi pendidikan ini
disederhanakan menjadi tiga macam, yaitu keluarga sebagai lembaga
pendidikan informal, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, dan masyarakat
sebagai lembaga pendidikan nonformal. Ketiga bentuk lembaga pendidikan tersebut
akan berpengaruh terhadap perkembangan dan pembinaan kepribadian peserta didik.[7]
1)
Lingkungan pendidikan di keluarga
Dalam
Islam, keluarga dikenal dengan istilah usrah, nasl, ‘ali dan nasb. Keluarga
dapat diperoleh melalui keturunan (anak, cucu), perkawinan (suami, istri),
persusuan, dan pemerdekaan. Keluarga (kawula dan warga) dalam pandangan antropologi
adalah suatu kesatuan sosial
terkecil yang memiliki tempat tinggal dan ditandai oleh kerja sama ekonomi,
berkembang, mendidik, melindungi, merawat, dan sebagainya. Inti keluarga adalah
ayah, ibu, dan anak.[8]
Pendidikan keluarga disebut sebagai pendidikan yang
pertama dan utama, serta merupakan pelekat fondasi dari watak dan pendidikan
setelahnya. Dalam hal ini, orang tua bertindak sebagai pendidik, dan si anak
bertindak sebagai peserta didik.[9] Keluarga
adalah lingkungan pertama dimana manusia melakukan komunikasi dan sosialisasi
diri dengan manusia lain selain dirinya. Di keluarga pula manusia untuk pertama
kalinya dibentuk baik sikap maupun kepribadiannya. Lembaga pendidikan keluarga merupakan
lembaga pendidikan yang pertama, karena didalam keluarga inilah tempat
meletakkan dasar-dasar kepribadian anak.[10]
Fungsi keluarga dalam kajian lingkungan pendidikan
sebagai institusi sosial dan institusi pendidikan
keagamaan.[11]
a)
Keluarga
sebagai Institusi Sosial
Orang tua
berkewajiban untuk mengembangkan fitrah dan bakat yang dimilikinya. Pendidikan
dalam perspektif ini, tidak menempatkan anak sebagai objek yang dipaksa
mengikuti nalar dan kepentingan pendidikan, tetapi pendidikan anak berarti
mengembangkan potensi dasar yang dimiliki anak yang dimaksud. Dalam Islam,
potensi yang dimaksud cenderung pada kebenaran. Karena ia cenderung pada
kebenaran, maka orang tua dituntut untuk mengarahkannya. Dalam kaitannya sebagai institusi sosial maka keluarga menjadi bagian dari
masyarakat dan negara.
Tanggung jawab sosial dalam keluarga, akan menjadi kesadaran bagi perwujudan
masyarakat yang baik. Keluarga
merupakan lingkungan sosial yang pertama. Di lingkungan ini anak akan
diperkenalkan dengan kehidupan sosial. Adanya interaksi antara anggota keluarga
yang satu dengan keluarga yang lainnya menyebabkan ia menjadi bagian dari
kehidupan sosial.
b)
Keluarga
sebagai Institusi Pendidikan/Keagamaan
Manusia adalah
satu-satunya makhluk
yang dapat dididik dan membutuhkan pendidikan. Dalam perspektif Islam, yang
jauh lebih penting lagi adalah bagaimana orang tua membantu perkembangan
psikologis dan intelektual anak. Aspek ini membutuhkan kasih sayang, asuhan dan
perlakuan yang baik. Termasuk yang jauh lebih penting lagi adalah peran orang
tua menanamkan nilai-nilai keagamaan dan keimanan anak. Model pendidikan
keimanan yang diberikan orang tua kepada anak, dituntut agar lebih dapat
merangsang anak dalam melakukan contoh perilaku orang tua (uswatun hasanah).
Melihat peran yang
dapat dimainkan oleh lembaga pendidikan keluarga maka tidak berlebihan bila
Sidi Gazalba mengkategorikannya pada jenis lembaga pendidikan primer, utamanya
untuk masa bayi dan masa kanak-kanak sampai usia sekolah.[12]
Secara umum,[13]
kewajiban orang tua pada anak-anaknya adalah sebagai berikut:
1.
Mendoakan
anak-anaknya dengan doa yang baik (QS Al-Furqon: 74) dan jangan sekali-kali
mengutuk anaknya dengan kutukan yang tidak manusiawi.
2.
Memelihara
anak dari api neraka (QS At-Tahrim: 6)
3.
Menyerukan
sholat pada anaknya (QS Taha: 132)
4.
Menciptakan
kedamaian dalam rumah tangga (QS An-Nisa: 128)
5.
Mencintai
dan menyayangi anak-anaknya (QS Ali-Imran: 140)
6.
Bersikap
hati-hati terhadap anak-anaknya (QS At-Taghabun: 14)
7.
Mencari
nafkah yang halal (QS Al-Baqarah: 233)
8.
Mendidik
anak agar berbakti kepada bapak dan ibu (QS An-Nisa:36, Al-An’am: 151,
Al-Isra’: 23) dengan cara mendoakannya yang baik (QS Al-Isra’: 24).
9.
Memberi
air susu sampai dua tahun (QS Al-Baqarah: 233).
Menurut
al-Nahlawi, kewajiban orang tua dalam mendidik anak-anaknya adalah[14]:
1.
Menegakkan
hukum-hukum Allah Ta’ala kepada
anaknya (QS Al-Baqarah: 229, 230)
2.
Merealisasikan
ketenteraman dan kesejahteraan jiwa keluarga (QS Al-A’raf: 189, Ar-Rum: 21)
3.
Melaksanakan
perintah agama dan perintah Rasululloh
. (QS At-Tahrim: 6)
4.
Mewujudkan
rasa cinta kepada anak-anak melalui pendidikan.
2)
Lingkungan pendidikan
di sekolah
Abu Ahmad dan Nur Uhbiyati−yang mana dikutip oleh
Ramayulis−memberi pengertian tentang lembaga pendidikan sekolah, yaitu bila
dalam pendidikan tersebut diadakan di tempat tertentu, teratur, sistematis,
mempunyai perpanjangan dan dalam kurun waktu tertentu, berlangsung mulai dari
pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, dan dilaksanakan berdasarkan aturan
resmi yang telah ditetapkan.
Gazalba memasukkan sekolah dalam jenis pendidikan
sekunder, sementara pendidiknya adalah guru yang profesional.[15]
Ahmad Tafsir memaparkan tentang alasan orang tua
menyerahkan pengajaran bagi anaknya ke sekolah, diantaranya: pertama, orang tua tidak mampu
menyelenggarakannya di rumah, pengetahuan yang harus diajarkan itu tidak
dikuasai oleh orang tua; kedua, orang
tua tidak memiliki cukup waktu untuk menyelenggarakannya; ketiga, karena pendidikan di rumah (terutama pengajaran) sangat
mahal.[16]
Sekolah telah menjadi lembaga
pendidikan sebagai media
berbenah diri dan membentuk nalar berfikir yang kuat. Tingkat keberhasilan
sebuah bangsa dalam konteks kehidupan manusia yang sangat luas, diukur dari
bagaimana sekolah berperan dalam
membangun kemandirian dan kecerdasan anak didik.
Sekolah bertanggung jawab menanamkan
penge-tahuan baru yang reformatif dan transformative dalam
mem-bangun bangsa
yang maju dan berkualitas. Dengan
demikian peran sekolah sangat besar dalam menentukan arah dan orientasi bangsa
ke depan.
Sekolah berfungsi sebagai pembantu keluarga dalam
mendidik anak. Sekolah memberikan pendidikan dan peng-ajaran kepada anak-anak
menganai apa yang tidak dapat atau tidak ada kesempatan orang tua untuk mem-berikan
pendidikan dan pengajaran di dalam keluarga. Oleh karena itu
sudah sepantasnyalah orang tua menyerahkan tugas dan tanggung jawabnya kepada
sekolah. Tugas guru dan pe-mimpin sekolah di samping memberikan
ilmu penge-tahuan-pengetahuan, keterampilan, juga mendidik anak
beragama. Di sinilah sekolah
berfungsi sebagai pembantu keluarga dalam memberikan pendidikan dann pengajaran
kepada anak didik. Pendidikan budi pekerti dan keagamaan yang diselenggarakan
di sekolah-sekolah haruslah merupa-kan
kelanjutan, setidak-tidaknya jangan bertentangan dengan apa yang diberikan
dalam keluarga. Sekolah
telah membina anak tentang kecerdasan, sikap, minat, dan lain sebagainya dengan
gaya dan caranya sendiri sehingga anak mentaatinya. Lingkungan yang positif
adalah terhadap pendidikan Islam yaitu lingkungan sekolah yang mem-berikan fasilitas dan motivasi untuk
berlangsungnya pen-didikan
agama ini. Sedangkan lingkungan sekolah yang netral dan kurang menumbuhkan jiwa
anak untuk gemar beramal, justru menjadikan anak jumud, picik, berwawasan
sempit. Sifat dan sikap ini menghambat pertumbuhan anak. Lingkungan sekolah
yang negatif terhadap pendidikan agama yaitu lingkungan sekolah berusaha keras
meniadakan kepercayaan agama di kalangan anak didik. Dalam hal ini mereka mengharapkan agar
anak didiknya kelak memiliki kepribadian yang sesuai dengan ajaran Islam atau
dengan kata lain berkepribadian muslim. Yang dimaksud dengan berkepribadian
muslim adalah kepribadian yang seluruh aspeknya baik tingkah lakunya, kegiatan jiwanya maupun
filsafat hidup dan kepercayaannya menunjukkan peng-abdiannya kepada Tuhan, penyerahan diri
kepada-Nya.[18]
(2)
Kerjasama antara keluarga dan sekolah[19]
Untuk
mendapatkan hasil
pendidikan yang baik, sekolah perlu mengadakan kerja sama yang harmonis antara
sekolah dan keluarga. Dengan adanya
kerja sama itu orangtua akan men-dapatkan:
a.
Pengetahuan dan pengalaman dari guru
dalam hal mendidik anak-anaknya.
b.
Mengetahui berbagai kesulitan yang
sering dihadapi anak-anaknya
di sekolah.
c.
Mengetahui tingkah laku anaknya selama
di sekolah seperti, apakah anaknya rajin,
malas suka membolos, suka mengantuk, nakal dan sebagainya.
Sedangkan
bagi guru, dengan adanya kerjasama tersebut guru akan mendapatkan:
1.
Informasi dari orang tua tentang
kehidupan dan sifat-sifat anaknya. Dan informasi tersebut sangat berguna bagi
guru dalam memberikan pendidikan sebagai anak didik-nya.
2.
Bantuan-bantuan dari orang tua dalam
mengatasi kesulitan yang dihadapi anak didiknya di sekolah.
(3)
Cara untuk mempererat antara keluarga
dan sekolah
a.
Mengadakan pertemuan dengan orang tua
diawal tahun pelajaran, khususnya di hari
penerimaan anak didik baru.
b.
Mengadakan surat menyurat antara sekolah
dan keluarga.
c.
Menyampaikan prestasi anak didik dalam
bentuk buku rapor.
d.
Mengadakan buku penghubung akhlak anak
didik.
e.
Mengunjungi orang tua murid.
f.
Mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan
dan ke-pesertadidikan
yang dihadiri oleh orangtua.
g.
Membentuk perkumpulan orangtua, seperti
komite sekolah.
1.
Utility (
kegunaan dan fungsi). Suatu lembaga sekolah diharapkan memiliki kontribusi
terhadap tuntutan masyarakat yang ada tuntutan kelembagaan sendiri dan aktor.
2.
Actor
(pelaku). Aktor berperan dalam pelaksanaan tujuan dan fungsi kelembagaan,
sehingga aktor tersebut mempunyai status dalam institusi tempat ia berada.
3.
Organisasi.
Organisasi dalam institusi tergambar dengan be-berapa bentuk dan
hubungan-hubungannya antara-aktor.
4.
Share
in Society (tersebar dalam
masyarakat). institusi memberikan seperangkat nilai, ide, dan sikap dominan
dalam masyarakat, serta mempunyai hubungan-hubungan dengan institusi lain, baik
terhadap sistem politik ekonomi masyarakat, kebudayaan, pengetahuan dan
kepercayaan.
5.
Sanction (Saksi). Institusi memberikan penghargaan dan hukuman
bagi aktor. Wewenang sanksi diperlukan bila berhubungan dengan nilai-nilai yang
berlaku di masyarakat tempat institusi berada, dan sanksi dijatukan sesuai
dengan ukurannya.
6.
Ceremony (ucapan, ritus, dan simbol). Upacara dalam pendidikan
sebagai pengikat tentang status, pengetahuan, dan nilai seperti acara wisuda.
7.
Resistance to change (menentang
perubahan). Institusi berorientasi terhadap status quo akan menumbulkan
problem baru.
3) Lingkungan pendidikan di
masyarakat[21]
Masyarakat sebagai lembaga pendidikan nonformal, juga
menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Masyarakat yang terdiri dari
sekelompok atau beberapa individu yang beragam akan mempengaruhi pendidikan
peserta didik yang tinggal di sekitarnya. Oleh karena itu, dalam pendidikan Islam,
masyarakat memiliki tanggung jawab dalam mendidik generasi muda tersebut.
Menurut Al-Nahlawi (1995) tanggung jawab masyarakat
terhadap pendidikan tersebut hendaknya melakukan beberapa hal, yaitu
(1) menyadari bahwa Allah menjadikan masyarakat sebagai
penyuruh kebaikan dan pelarang kemungkaran/amar ma’ruf nahi mungkar se-bagaimana
yang tertera dalam surat Âli Imran 104.
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar,
merekalah orang-orang yang beruntung.
(2) Dalam masyarakat Islam seluruh anak-anak dianggap
seperti anak sendiri atau saudaranya sehingga di antara saling perhatian dalam
mendidik anak-anak yang ada di lingkungan mereka sebagaimana mereka mendidik
anak sendiri. (3) Jika ada orang yang berbuat jahat, maka masyarakat turut
menghadapi dengan menegakkan hukum yang berlaku, termasuk adanya ancaman,
hukuman, dan kekerabatan lain dengan cara yang mendidik (4) Masyarakat pun
dapat melakukan pembinaan melalui pengisolasian, pemboikotan, atau pemutusan
hubungan kemasyarakatan sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Nabi. (5) Pendidikan
kemasyarakatan dapat dilakukan melalui kerja sama yang utuh. Karena masyarakat
muslim adalah masyarakat yang padu.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat
sebagai lingkungan pendidikan yang lebih luas turut berperan dalam ter-selenggaranya
proses pendidikan. Setiap individu sebagai anggota dari masyarakat tersebut
harus bertanggung jawab dalam menciptakan suasana yang nyaman dan mendukung.
Oleh karena itu, dalam pendidikan anak pun, umat islam tuntut untuk untuk
memillih lingkungan yang mendukung pendidikan anak dan menghindari masyarakat
yang buruk. Sebab, ketika anak atau pererta didik berada di lingkungan
masyarakat yang kurang baik, perkembangan kepribadian anak tersebut akan
bermasalah.
Dalam kaitannya dengan lingkungan keluarga, orang tua
harus memilih lingkungan masyarakat yang sehat dan cocok sebagai tempat tinggal
orangtua beserta anaknya. Begitu pula sekolah atau madrasah sebagai lembaga
pendidikan formal, juga perlu memilih lingkungan yang mendukung dari masyarakat
setempat dan memungkinkan ter-selanggaranya pendidikan tersebut. Berpijak dari
tanggung jawab tersebut, maka dalam masyarakat yang baik bisa melahirkan
berbagai bentuk pendidikan kemasyarakatan, seperti masjid, surau, taman
pendidikan Al-qur’an (TPA) wirid remaja, kursus-kursus keislaman, pembinaan
ruhani, dan sebagainya. Mengingat pentingnya peran masyarakat sebagai
lingkungan pendidikan, setiap individu sebagai anggota masyarakat harus
menciptakan suasana yang nyaman demi keberlangsungan proses pendidikan yang
terjadi di dalamnya.
D. Pengaruh Timbal Balik antara
Tripusat Pendidikan Terhadap Perkembangan Peserta Didik
Untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, ketiga
lembaga atau lingkungan pendidikan di atas perlu bekerja sama secara harmonis.
Orang tua di tingkat keluarga harus memperhatikan pendidikan anak-anaknya,
terutama dalam aspek keteladanan dan pembiasaan serta penanaman nilai-nilai.
Orang tua harus menyadari tanngung jawabnya dalam mendidik anak-anaknya tidak
sebatas taat beribadah kepada Allah semata, akan tetapi orangtua harus
memperhatikan bagi anaknya sesuai dengan pendidikan yang ada dalam Islam.
Termasuk di antaranya mempersiapkan anaknya memilih kemampuan/keahlian sehingga
dapat menjalankan hidupnya sebagai hamba Allah sekaligus sebagai Khalifah
Fil Ardhi , serta menentukan kebahagiaan yang hakiki, dunia akhirat. Selain
itu orang tua juga dituntut untuk mempersiapkan anaknya sebagai anggota
masyarakat yang baik sebab, masyarakat yang baik berasal dari individu-individu
yang baik sebagai anggota dari satu komunitas masyarakat itu sendiri. Dalam
hubungannya dengan sekolah, orangtua mesti berkoordinasi dengan baik dengan
sekolah tersebut. Pihak sekolah juga menyadari bahwa peserta didik yang ia
didik merupakan amanah dari orang tua mereka sehingga keterlibatan dan bantuan
orangtua dibutuhkan. Kemudian, sekolah juga harus mampu memberdayakan
masyarakat seoptimal mungkin, dalam tujuan peningkatan kualitas pendidikan yang
diterapkan.
Dapat disimpulkan bahwa lingkungan
pendidikan sangat berperan dalam penyelenggaraan pendidikan Islam. Sebab,
lingkungan yang juga dikenal dengan institusi itu merupakan tempat terjadinya
proses pendidikan. Secara umum lingkungan tersebut dapat dilihat dari tiga hal,
yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1)
Pengertian lingkungan, secara harfiah
lingkungan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mengitari kehidupan baik
berupa fisik seperti alam jagat raya dengan segala isinya, ataupun berupa
nonfisik seperti suasana kehidupan beragama, nilai-nilai dan adat istiadat yang
berlaku dimasyarakat, ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang berkembang, serta
teknologi. Kedua lingkungan tersebut hadir secara kebetulan, yakni tanpa diminta
dan direncanakan oleh manusia.
2)
Sedangkan lingkungan pendidikan Islam adalah suatu lingkungan yang di dalamnya
terdapat ciri-ciri ke-Islaman yang memungkinkan terselenggaranya pendidikan
Islam dengan baik.
3)
Lingkungan seperti itu tidak
disinggung secara langsung dalam Al-Qur’an,
tetapi al-Qur’an menyinggung dan memberikan perhatian tehadap
lingkungan sebagai tempat sesuatu. Seperti dalam menggambarkan tentang tempat
tinggal manusia pada umumnya, dikenal istilah al-qaryah.
4)
Konsep
lingkungan dalam hubungannya dengan pendidikan dan manusia
menimbulkan berbagai aliran yang antara satu dan lainnya
menunjukkan perbedaan yang mencolok, yaitu empirisme atau
behaviorisme, nativisme, konvergensi.
5)
Sekilas Islam tampaknya lebih cenderung kepada aliran konvergensi.
Namun, jika dilakukan analisis secara agak mendalam dan
seksama. Tampaknya ajaran Islam tidak menganut salah satu aliran tersebut,
karena ketiga aliran tersebut semata-mata mengandalkan pengaruh atau faktor
yang berasal dari usaha manusia sendiri. Seluruh aliran tersebut masih memusat
pada usaha manusia (anthropo-centris), dan belum melibatkan peran Tuhan.
Hal ini bertentangan dengan ideologi pendidikan Islam yang bercorak humanisme teo-centris,
yang intinya memadukan antara usaha manusia dan pertolongan (hidayah) dari Tuhan.
Dengan demikian, proses pendidikan dalam Islam dipengaruhi
oleh tiga faktor, yaitu faktor pembawaan dalam diri manusia, faktor lingkungan,
dan faktor hidayah dari Allah Ta’ala.
6)
Macam-macam
Lingkungan Pendidikan Islam
a. Lingkungan
pendidikan di keluarga
b. Lingkungan pendidikan di sekolah
c. Lingkungan pendidikan di
masyarakat
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan
Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2010.
Abuddin
Nata, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2010.
Ahmad Tafsir, Ilmu
Pendidikan Dalam Perspektif Islam,Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011.
Moh.
Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam, Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media, 2012.
Ramayulis,
Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2012.
[2] Moh. Haitami
Salim dan Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam, Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media, 2012, cet. ke-1, hlm. 261.
[3] Ibid, hlm.
262.
[4] Ibid, hlm.
263.
[6] Ibid. 297-298.
[7] Ibid, hlm.
262.
[8] Abdul Mujib
dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada
Media, 2010, cet. ke-3, hlm. 226.
[16] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011, cet. ke-10, hlm. 185.
[17] Novan Ardy Wiyani dan Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,
cet. ke-1, hlm. 71.
[18] http://20319708.siap-sekolah.com/2013/09/06/lingkungan-pendidikan-dalam-pendidikan-islam/ diakses
pada 11-11- 2013 pukul 21: 30 WIB.
.jpg)
Tidak ada komentar
Silahkan mengcopy-paste, menyebarkan, dan membagi isi blog selama masih menjaga amanah ilmiah dengan menyertakan sumbernya.
Salam : Admin K.A.