MENGAPA IMAN DAPAT BERTAMBAH DAN BERKURANG ? BAGAIMANA MENJAGANYA AGAR TETAP KOKOH ?


Iman bagi seorang hamba adalah segala-galanya. Ia adalah miliknya yang paling berharga. Lebih mahal daripada dunia dan seisinya. Di sisi Alloh l, iman memiliki kedudukan yang tinggi dan luhur. Ia adalah kewajiban yang paling urgen dan tuntutan yang paling penting. Setiap kebaikan dunia dan akhirat tergantung pada kebaikan dan keselamatan iman. Iman merupakan prasyarat meraih hayatan thoyyibah atau kehidupan yang indah di dunia maupun di akhirat. Alloh l berfirman:

"Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia adalah seorang yang beriman, maka sungguh akan Kami anugerahkan baginya kehidupan yang indah dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."  (QS. an-Nahl [16]: 97)

Betapa banyak faidah yang melimpah, buah yang beraneka ragam, panen yang lezat dan tak kunjung habis serta kebaikan yang terus mengalir karena ke-imanan. Dari sini kaum Muslim in berlomba-lomba untuk menjaga, memurnikan dan menyempurnakan imannya. Seorang Muslim yang diberi taufiq oleh Alloh l seha-rusnya memprioritaskan penjagaannya terhadap keimanan di atas segalanya dalam rangka mencontoh salafush sholeh. Para salafush sholeh selalu bersungguh-sungguh menjaga keimanan mereka, memeriksa amal mereka dan saling berwasiat di antara mereka. Atsar-atsar dan pernyataan mereka yang menunjukkan perhatian mereka tentang iman sangatlah banyak. Kalau kita memperhatikan sejarah hidup mereka dan membaca kabar tentang mereka kita akan mengetahui begitu besar perhatian mereka terhadap keimanan.

Iman Bisa Bertambah dan Bisa Berkurang
Sesungguhnya iman yang ada dalam diri seorang hamba itu bisa bertambah dan bisa pula berkurang. Terdapat banyak sekali dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah tentang hal ini. Adapun dalil-dalil dari al-Qur’an antara lain ialah:

Firman Alloh l:
"Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman maka surat ini menambah keimanan mereka dan mereka merasa gembira. (QS. at-Taubah [9]: 124)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. al-Anfal [8]: 2-4)

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang Mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). “ (QS. al-Fath [48]: 4)

Adapun dalil-dalil dari as-Sunnah adalah sabda Rosululloh n berikut:
 (( مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذٰلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ ))
“Siapa saja di antara kalian yang melihat kemung-karan, maka hendaklah merubahnya dengan ta-ngannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim )

Hadits ini menunjukkan tingkatan-tingkatan dalam mencegah kemungkaran dan ia adalah bagian dari iman. Hadits ini menafikan (meniadakan) iman dari seseorang yang tidak mau melakukan tingkatan terendah dari tingkatan nahi munkar yaitu merubah kemungkaran dengan hati. Sebagaimana disebutkan dalam sebagian riwayat hadits, “Dan tidak ada sesudahnya sebiji sawi pun dari iman.” (HR. Muslim )

Rosululloh n bersabda:
(( الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ ))
Iman itu memiliki tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih. Cabangnya yang paling utama adalah ucapan “La Ilaha Illalloh” dan cabangnya yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, sedangkan rasa malu itu (juga) salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim)

Hadits ini menjelaskan bahwa iman itu terdiri dari cabang-cabang yang bermacam-macam, dan setiap cabang adalah bagian dari iman yang keutamaannya berbeda-beda, yang paling tinggi dan paling utama adalah ucapan “La Ilaha Illalloh” kemudian cabang-cabang sesudahnya secara berurutan dalam nilai dan fadhilahnya sampai pada cabang yang terakhir yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan.

Adapun cabang-cabang antara keduanya adalah shalat, zakat, puasa, haji dan amalan-amalan hati seperti rasa malu, tawakkal, khosyyah (takut kepada Alloh) dan sebagainya, yang kesemuanya itu dinamakan iman. Sejalan dengan pengamalan cabang-cabang iman itu, maka iman bisa bertambah dan bisa berkurang.

Dari ‘Abdulloh bin ‘Amr bin al-’Ash a, bahwa Rosululloh n bersabda:
(( إِنَّ اْلإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ اْلخَلِقُ فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ اْلإِيْمَانَ فِيْ قُلًُوْبِكُمْ ))
“Sesungguhnya iman itu bisa lapuk dalam rongga salah seorang dari kalian sebagaimana lapuknya baju. Maka hendaknya kalian meminta kepada Alloh agar Dia memperbaharui iman dalam hati-hati kalian.” (HR Hakim, Thobroni dan lainnya)
Dalam hadits yang mulia ini Rosululloh n menye-butkan dua perkara:
1. Bahwa iman itu bisa berkurang sedikit demi sedikit.
2. Bahwa iman itu dapat diperbaharui, ditumbuhkan atau diperkuat.
Oleh karena itu, seorang Muslim  harus mengetahui sebab-sebab yang dapat mengurangi imannya sehingga sebab-sebab itu sirna dari dirinya. Demikian pula iman dapat bertambah. Seorang Muslim  harus mengetahui sebab-sebab bertambahnya iman sehingga dapat mem-perkuat imannya.

Atsar Dari Para Salafush Sholeh
‘Umar bin Khoththob a berkata:
( هَلُمُّوا نَزْدَدْ إِيمَانًا )
 “Marilah ke sini, agar kita menambah keimanan “
‘Abdulloh bin Mas’ud a berkata:
( اجْلِسُوْا بِنَا نَزْدَدْ إِيمَانًا )
Marilah duduk bersama kami agar kita dapat menambah keimanan.”
Mu’adz bin Jabal a berkata:
( اجْلِسْ بِنَا نُؤْمِنْ سَاعَةً )
“Marilah duduk sejenak bersama kami untuk menambah keimanan.”
Atsar dari ‘Abdulloh bin Rowahah a:
“Abdulloh bin Rowahah biasa menggandeng tangan para sahabatnya dan berkata, ‘Marilah kita beriman sesaat. Marilah kita berdizikir kepada Alloh dan menambah keimanan. Marilah kita berdzikir kepada Alloh dengan mentaati-Nya semoga Dia mengingat kita dengan mengampuni kita”

Maksud mereka dengan perkataan ini adalah mengajak untuk berkumpul di majelis ilmu untuk mengingat Alloh l, majelis yang dapat menambah keimanan. Mengingat tentang kebesaran Alloh l, mengingat tentang halal dan haram, belajar agama Alloh l, dan lain-lain akan menambah keimanan seseorang dan menghilangkan sifat lalai dari dirinya.
Abu Darda’ a berkata:
( وَمِنْ فِقْه الْعَبْدِ أَنْ يَعْلَمَ أَيَزْدَادُ هُوَ أَمْ يَنْقصُ . )
“Di antara tanda kefahaman agama seseorang adalah ia mengetahui apakah imannya bertambah ataukah berkurang.”

‘Umair bin Hubaib al-Khithomi a berkata: “Iman itu bertambah dan berkurang.” Dia ditanya: “Apa yang menyebabkan bertambah dan berkurangnya?” Dia men-jawab: “Apabila kita berdzikir kepada Alloh k, memuji-Nya dan bertasbih kepada-Nya maka itulah bertambahnya iman. Dan apabila kita lalai, menyia-nyiakan dan melu-pakan-Nya, maka itulah berkurangnya iman.”

Abdurrohman bin ‘Amr al-Auza’i v, salah seorang  imam dari kalangan tabi’in pernah ditanya tentang keimanan, apakah ia bisa bertambah? Beliau menjawab: “Betul (bisa bertambah) sampai seperti gunung.” Lalu beliau ditanya lagi: “Apakah bisa berkurang?” Beliau menjawab: “Ya, sampai tidak tersisa sedikitpun.”

Demikian pula Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ahmad bin Hambal v pernah ditanya tentang keimanan, apakah bisa bertambah dan berkurang? Beliau menjawab: “Iman bisa bertambah sampai puncak langit yang ke tujuh dan bisa berkurang (menyusut) sampai lapis bumi yang ke tujuh.” Beliau juga menyatakan: “Iman itu (terdiri atas) ucapan dan amalan, bisa bertambah dan berkurang. Apabila engkau mengamalkan kebajikan, maka imanmu akan bertambah, dan apabila engkau menyia-nyiakannya, maka imanmu pun berkurang.”

Inilah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu meyakini bahwa sesungguhnya iman seseorang itu bisa bertambah dan bisa pula berkurang. Setelah kita tahu bahwa ternyata iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang, lalu apa yang harus dilakukan oleh seorang mukmin untuk menjaga kualitas imannya?

Setiap hamba dituntut untuk senantiasa menjaga kesempurnaan iman yang telah tertancap di dalam hatinya dengan melakukan berbagai amal sholeh, sebab apabila iman terus dipupuk, maka iman akan bersinar dan sinarnya akan memancar ke seluruh anggota tubuh pemiliknya, mata, telinga, tangan, kaki dan yang lainnya. Jika iman telah terpancar ke seluruh tubuh, maka tubuh tersebut akan ringan melakukan ketaatan dan berat untuk melakukan maksiat kepada Alloh l.

Iman yang telah tertancap dalam hati seorang mukmin, bagaikan sebatang pohon yang mempunyai beberapa cabang. Cabang-cabang tersebut menjulang tinggi ke langit dan akarnya pun terhunjam kokoh di bumi. Dan pohon tersebut akan senantiasa memberikan buahnya pada setiap saat dengan izin Alloh l.

Alloh l berfirman:
"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Alloh telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (yaitu kalimat tauhid) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Alloh membuat perumpamaan-perumpamaan itu bagi manusia agar mereka ter-gugah (sadar)." (QS. Ibrahim [14]: 24-25).

Syaikh ‘Abdurrohman as-Sa’di v menerangkan bahwa seorang hamba yang mendapatkan taufiq dari Alloh l akan selalu berusaha melakukan dua perkara:
Pertama, merealisasikan iman dan cabang-cabangnya serta menerapkannya baik secara ilmu dan amal secara bersama-sama.
Kedua, berusaha menolak semua perkara yang dapat menafikan dan menghapus keimanan ataupun meng-uranginya berupa fitnah-fitnah (kesesatan) yang nampak maupun yang tersembunyi, mengobati kekurangan dari awal dan mengobati yang seterusnya dengan taubat nasuha.
[1]
Mewujudkan iman dan mengokohkannya dilakukan dengan mengenal sebab-sebab bertambahnya iman dan melaksanakannya. Sedangkan berusaha menolak semua yang menghapus dan menentangnya dilakukan dengan mengenal sebab-sebab berkurangnya iman dan berhati-hati dari terjerumus di dalamnya.

Sebab Bertambahnya Iman
Sesungguhnya Alloh l telah menetapkan beberapa sumber bagi iman yang dapat mengokohkan dan mengu-atkannya. Juga menjadikan beberapa sebab yang akan menambah iman dan menumbuhkannya. Jika sebab-sebab tersebut dilakukan oleh seorang hamba niscaya akan menjadi kuatlah keyakinannya dan bertambah keimanannya serta menjadi tinggi derajatnya di dunia dan di akhirat. Sedangkan iman merupakan sebab bagi seluruh kebaikan yang segera (di dunia) maupun yang kelak (di akhirat). Di antara sebab-sebab terpenting bagi bertambahnya iman adalah:

Pertama: Mempelajari ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu syariat yang dibangun di atas landasan al-Qur’an dan as-Sunnah. Ini adalah sebab terbesar bagi bertambah-nya iman, yaitu bersungguh-sungguh memahami al-Qur’an dan as-Sunnah, mempelajari tentang aqidah Islam yang haq, dalil-dalilnya dan keterangannya secara rinci. Juga mempelajari tentang hukum-hukum Alloh l, perkara-perkara yang halal dan haram, serta nasihat- nasihat Nabawi yang dapat melembutkan hati. Hal ini menjadi sebab pertambahan iman yang terpenting dan bermanfaat karena ilmu menjadi sarana beribadah kepada Alloh l dan mewujudkan tauhid dengan benar. Bertambahnya iman yang didapatkan dari ilmu bisa terjadi dari beraneka ragam sisi, di antaranya:
a.    Keluarnya seorang penuntut ilmu dalam mencari ilmu.
b.    Duduknya mereka dalam halaqah ilmu.
c.    Mudzakarah (diskusi) di antara mereka dalam masalah ilmu.
d.    Bertambahnya pengenalan mereka tentang Alloh l dan syariat-Nya.
e.    Penerapan ilmu yang telah mereka pelajari.
f.     Tambahan pahala dari orang yang belajar dari mereka, karena barangsiapa yang menunjukkan manusia kepada kebaikan maka ia mendapat pahala mereka yang mengamalkannya.

Menuntut ilmu merupakan sebab yang paling besar dalam bertambahnya iman. Perhatikanlah nash-nash al-Qur’an dan al-Hadits berikut ini:
Alloh l berfirman:
Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Robb kami.” Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang ber-akal." (QS. Ali ‘Imron [3]: 7)

“Alloh telah bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga bersaksi akan yang demikian itu). Tidak ada ilah yang berhak untuk disembah melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran [3]: 18)

 “Akan tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman dengan apa-apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan sholat, menunaikan zakat dan yang beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan pahala yang besar.” (QS. an-Nisa’ [4]: 162)
Serta ayat-ayat lain yang semakna. Adapun dari al-Hadits, maka Rosululloh n  bersabda:
(( مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ ، وَإِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ ))
Barangsiapa yang Alloh menghendaki kebaikan baginya, niscaya Alloh akan memahamkannya dalam perkara agama. Dan sesungguhnya ilmu itu hanya bisa diraih dengan belajar.” (HR. Bukhori dan Muslim)

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Alloh akan memudahkan baginya jalan ke surga. Dan sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada pencari ilmu karena ridha dengan apa yang dia perbuat. Sesungguhnya seorang yang alim akan dimintakan ampunan baginya oleh semua yang ada di langit dan bumi sampai ikan hiu di dalam air. Sesung-guhnya keutamaan orang alim atas seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan di malam purnama atas segala bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi dan para Nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham akan tetapi mereka me-wariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengam-bilnya maka berarti dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

(( فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِى عَلَى أَدْنَاكُمْ (( ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- (( إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ ))
“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian. Sesung-guhnya Alloh, para malaikat-Nya serta penduduk langit dan bumi sampai-sampai semut yang ada di lubangnya dan ikan-ikan, semuanya mendoakan bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi; di-shahihkan Albani)

Nash-nash di atas menerangkan kedudukan dan keagungan serta pentingnya ilmu dan akibat atau pengaruhnya di dunia dan di akhirat berupa ketun-dukan dan keterikatan pada syariat Alloh l serta merealisasikan syari’at tersebut. Maka seorang alim yang mengenal Robbnya, Nabinya, perintah dan batasan-batasan hukum Alloh l, ia dapat membedakan perkara-perkara yang dicintai dan diridlai Alloh l dengan perkara-perkara yang dibenci-Nya. Inilah ilmu yang bermanfaat.

Kedua: Mengenal al-Asma’ul Husna (nama-nama Alloh yang Maha indah) dan sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi. Semua nama-nama dan sifat-sifat Alloh l yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah itu menunjukkan kesempurnaan Alloh l  secara mutlak dari berbagai segi dan kesucian-Nya dari semua kekurangan. Bila seorang hamba mengenal Robb-nya dengan pengenalan yang hakiki, yaitu mengenal nama-nama-Nya yang Maha indah dan sifat-sifat-Nya yang Maha tinggi, kemudian ia selamat dari jalan orang-orang yang menyimpang dalam memahami asma’ dan sifat tersebut, maka sungguh ia telah diberi taufiq dalam mendapatkan tambahan iman. Karena, seorang hamba bila ia telah me-ngenal Alloh dengan jalan yang benar, maka dia akan termasuk orang yang paling kuat keimanan dan ketaatannya, paling besar rasa takutnya kepada Alloh l dan paling kuat muroqobah (rasa diawasi)nya oleh Allah l.
Alloh l berfirman:
 “Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir [35]: 28)

Imam Ibnu Katsir v menjelaskan: “Sesungguhnya hamba yang benar-benar takut kepada Alloh l  adalah para ulama yang mengenal Alloh l.”
Berusaha mengenal nama-nama dan sifat-sifat Alloh l  akan membuat seorang hamba melaksanakan konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat Alloh l tersebut yang di antaranya ialah munculnya ta’zhim (peng-agungan) dan khosyah (rasa takut) kepada Alloh l.

Oleh karena itu, semakin paham seseorang tentang nama-nama Alloh l dan semakin mengenal akan sifat-sifat-Nya, maka semakin tinggi keimanannya kepada Alloh l. Adapun orang yang tidak mengenal nama-nama dan sifat-sifat Alloh l, maka ia akan semakin jauh dari Alloh l dan semakin lemah keimanannya.

Sebagai contoh jika seorang hamba mengetahui bahwa Alloh l adalah mutafarrid (satu-satunya Dzat) yang mampu memberikan kemanfaatan dan kemudha-ratan. Demikian juga masalah memberi rizki, menghidup-kan dan mematikan. Dengan mengetahui ini seorang hamba akan benar-benar bertawakkal (bersandar) kepada Alloh l dalam meraih suatu kemanfaatan atau menghindari kemudharatan.

Jika seseorang mengetahui bahwa Alloh l Maha mendengar dan Maha melihat, Maha mengetahui, tidak ada sesuatu sekecil apapun di langit maupun di bumi yang luput dari pengawasan Alloh, juga Alloh mengetahui khianatnya pandangan mata, Alloh mengetahui apa yang terdapat di dalam hati manusia, maka seseorang akan menjaga pandangannya, perkataan lisannya, dan menjaga gerak-gerik hatinya, karena semua itu tidak ada satu pun yang luput dari ilmu Alloh l. Sehingga, semua perbuatan yang dilakukannya sesuai dengan apa yang diridhoi oleh Alloh l. Ia akan mengarahkan seluruh anggota tubuhnya agar selaras dengan syari’at Alloh l.

Demikian juga jika seorang hamba mengetahui bahwa Alloh l Maha Kaya, Maha Baik, Maha Penyayang, maka hal ini akan menumbuhkan pengharapan yang besar pada dirinya. Hal ini akan mendorongnya untuk semakin memperbanyak ibadah dan doa karena besarnya pengharapannya kepada Alloh l.
Demikian juga jika seorang hamba mengetahui bahwa Alloh l Maha Sempurna, Maha Indah, maka hal ini akan menimbulkan kerinduan untuk bertemu dengan Robb-nya, memandang wajah-Nya, dan kecintaan ini akan menumbuhkan banyak peribadatan dalam dirinya.
Rosululloh n  bersabda:
 (( إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ))
Sesungguhnya Alloh memiliki sembilan puluh sembilan nama. Barangsiapa yang menghitungnya dengan cermat, maka ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim )
Yang dimaksud dengan menghitung atau ihsha’ dalam hadits di atas adalah menghitung, menghafal, dan mema-hami kandungan nama-nama Alloh l tersebut serta berusaha mengamalkan konsekuensi (tuntutan)nya.

Ketiga: Membaca al-Qur’an al-Karim dengan tadabbur (merenungkan atau memikirkan isi kandungannya). Orang yang membaca, mentadabburi dan memperhatikan isi kandungan al-Qur’an akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang menjadikan imannya bertambah kuat dan tebal.

Alloh l mengabarkan tentang keadaan orang-orang Mukmin dalam firman-Nya:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Alloh, gemetarlah hati-hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah iman mereka, dan kepada Robb mereka itulah mereka bertawakkal.” (QS. al-Anfal [8]: 2)

Imam al-Ajurri v berkata: “Barangsiapa mentadabburi al-Qur’an, ia akan mengenal Robb-nya l dan mengetahui keagungan, kekuasaan dan qudrah-Nya serta ibadah yang diwajibkan atasnya. Maka ia senantiasa melakukan setiap kewajiban dan menjauhi segala sesuatu yang tidak disukai Maula (Tuan)nya (yakni Alloh l).”

Hal ini termasuk ilmu yang paling agung yang menyebabkan bertambah serta kuatnya keimanan. Alloh telah menurunkan Kitab-Nya sebagai penerang bagi hamba-hamba-Nya, sebagai petunjuk, rahmat, cahaya, kabar gembira dan peringatan bagi orang-orang yang ingat. Banyak sekali nash-nash yang menerangkan tentang perkara ini di antaranya Alloh l berfirman:

“Dan Al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah ia dan bertakwalah agar kalian diberi rahmat. “ (QS.  al-An’am [6]: 155)

"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.(QS.  Shod [38]: 29)
“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.“ (QS. al-Isro’ [17] : 9)

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menam-bah kepada orang-orang yang zalim selain keru-gian. “ (QS. al-Isro’ [17]: 82)
Juga pada surat al-A’raf: 52, al-An’am: 92, an-Nahl: 89, Shod: 29, Qof: 37 dan lain-lain.

Ayat-ayat ini menerangkan keutamaan al-Qur’an al-Karim. Ayat-ayat tersebut juga menerangkan penting-nya al-Qur’an dan pentingnya memperhatikan al-Qur’an serta kuatnya pengaruh al-Qur’an terhadap hati. Ibnul Qoyyim v berkata, "Kesimpulannya adalah tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati selain daripada  membaca al-Qur’an dengan tadabbur dan tafakur."

Alloh l telah memberikan permisalan akan kea-gungan al-Qur’an:
Kalau sekiranya Kami turunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Alloh. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. “ (QS. al-Hasyr [59]: 21)
Ayat-ayat ini menunjukkan akan keagungan al-Qur’an sebagai kitab yang membawa petunjuk dan membawa kebaikan. Semakin dekat seseorang dengan al-Qur’an, semakin sering mempelajarinya, memahami dan mengamalkannya maka akan semakin bertambah keimanannya.

BACA JUGA : IMAN KEPADA HARI AKHIR / KIAMAT. PEMBAHASAN LENGKAP

Keempat: Memperhatikan siroh atau perjalanan hidup Rosululloh n, yaitu dengan mengamati, memper-hatikan dan mempelajari siroh beliau dan sifat-sifatnya yang baik serta perangainya yang mulia.

Imam Ibnul Qoyyim v menjelaskan: “Dari sini kita mengetahui betapa sangat pentingnya seorang hamba mengenal Rosul dan apa yang dibawanya, dan mem-benarkan apa yang beliau kabarkan serta mentaati apa yang beliau perintahkan. Karena tidak ada jalan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan di akhirat kecuali dengan tuntunannya. Tidak ada jalan untuk mengetahui baik dan buruk secara mendetail kecuali darinya. Maka kalau seseorang memperhatikan sifat dan akhlak Rosululloh n dalam al-Qur’an dan al-Hadits, niscaya dia akan mendapatkan manfaat dengannya, yakni ketaatannya kepada Nabi n  menjadi kuat, dan kian bertambah cintanya kepada beliau. Itu adalah tanda bertambahnya keimanan yang mewariskan muta-ba’ah dan amalan sholeh.”

Sesungguhnya Nabi n  adalah manusia pilihan yang diutus Alloh l kepada hamba-hamba-Nya dengan agama yang sempurna dan jalan yang lurus, sebagai rahmat bagi alam semesta, pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa dan hujjah bagi seluruh mahluk. Dialah yang dipercaya Alloh l untuk menyampaikan wahyu-Nya.

Dengan sebab beliau Alloh l memberikan kita hidayah kepada jalan yang paling lurus. Alloh mewajibkan para hamba-Nya untuk taat kepada Nabi n, menolongnya, mencintainya, dan mencitai keluarganya. Bahkan Alloh telah menutup semua jalan yang akan mengarahkan seseorang ke surga kecuali satu jalan yaitu jalan yang telah ditempuh oleh Nabi n. Tidak ada jalan untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat kecuali dengan mengikuti jalan Nabi n.

Kelima: Mencermati dan merenungkan tentang kebaikan-kebaikan agama Islam. Ketahuilah, sesungguh-nya ajaran Islam itu semuanya baik, aqidahnya adalah aqidah yang paling benar, akhlaknya adalah akhlak yang paling terpuji, dan paling adil hukum-hukumnya.

Hendaknya setiap Muslim merenungkan keindahan agama Islam. Sebab dengan itu Alloh l akan menghiasai dirinya dengan iman dan menjadikannya semakin cinta kepada keimanan. Alloh l berfirman mengenai karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya:

“Akan tetapi Alloh menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hati kalian.” (QS. al-Hujurat [49]: 7)
Jika seseorang mengetahui keindahan syariat Islam, maka Islam ini akan menjadi sesuatu yang sangat dia cintai dalam dirinya. Dengan demikian ia akan merasakan manisnya keimanan dalam hatinya. Apabila seorang hamba memperhatikan kebaikan-kebaikan yang terdapat dalam agama ini berupa perintah-perintah dan larangan-larangan, syariat dan hukum-hukum, akhlak dan adab-adabnya niscaya akan semakin menambah keimanan bagi orang yang telah beriman. Bahkan barangsiapa yang kuat perhatiannya kepada kebaikan-kebaikan agama ini, kakinya akan semakin kokoh di dalam menapakinya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik a bahwa Rosululloh n bersabda:

Ada tiga perkara yang barangsiapa ada padanya maka ia akan merasakan manisnya iman. Pertama, hendaknya Alloh dan Rosul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya. Kedua, hendaknya ia mencintai seseorang semata-mata karena Alloh. Dan hendaknya ia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci untuk dilempar-kan ke dalam api.” (HR. Bukhori dan Muslim )
Tidaklah seseorang itu sangat membenci kekafiran kecuali karena ia telah mengetahui keindahan kebalikan-nya yaitu Islam.

Keenam: Membaca siroh atau perjalanan hidup salafush sholeh. Yang dimaksud salafush sholeh di sini adalah para shahabat Rosululloh n  dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (lihat QS. At Taubah [9]: 100). Barangsiapa membaca dan memper-hatikan perjalanan hidup mereka, akan mengetahui kebaikan-kebaikan mereka, akhlak-akhlak yang agung, ittiba’ mereka kepada Rosululloh n, perhatian mereka kepada iman, rasa takut mereka dari dosa, kemaksiatan, riya’ dan nifaq. Juga ketaatan dan berlomba-lombanya mereka dalam kebaikan, kekuatan iman mereka dan kuatnya ibadah mereka kepada Alloh l dan sebagainya.

Dengan memperhatikan keadaan mereka, maka iman menjadi kuat dan timbul keinginan untuk me-nyerupai mereka dalam segala hal. Sebagaimana ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v, “Barangsiapa lebih serupa dengan mereka (para shahabat Rosululloh n), maka ia lebih sempurna imannya.”
Dan tentunya, barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.

Mereka adalah sebaik-baik generasi, penjaga Islam, orang-orang yang menyaksikan kejadian-kejadian yang agung, pembawa-pembawa agama ini dan penyampai risalah kepada zaman sesudah mereka, manusia yang paling kuat imannya dan kokoh ilmu di kalangan manusia, yang paling baik hatinya dan paling suci jiwa-jiwa mereka. Mereka diberi kekhususan oleh Alloh l dengan melihat Nabi-Nya n  dan mendengar langsung suara dan ucapan beliau n, mengambil agama dari beliau sehingga jiwa mereka kokoh.

Keutamaan mereka telah disebutkan dalam banyak firman Alloh l. Mereka adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk membimbing manusia dan yang paling bermanfaat bagi manusia.

Rosululloh n bersabda:
Sebaik-baik umatku adalah generasi yang aku diutus di tengah-tengah mereka, kemudian orang-orang yang datang sesudah mereka, kemudian orang-orang yang datang sesudah mereka.” (HR. Muslim )

Para sahabat adalah manusia pilihan dari umat manusia, maka mempelajari bagaimana perjalanan hidup mereka, akhlak mereka, perjuangan mereka dalam membela Islam juga dapat menambah keimanan seseorang. Jika seorang Muslim melihat kondisi mereka yang demikian, maka ia akan berusaha meneladani mereka dengan sebaik-baiknya, sehingga akan bertambah keimanannya sebagaimana bertambahnya keimanan mereka.

Ketujuh: Memperhatikan tanda-tanda kebesaran Alloh l  yang terdapat di alam semesta (merenungi ayat-ayat kauniyah).
Salah satu sebab yang mudah untuk menambah keimanan seseorang adalah memperhatikan dan mere-nungkan kebesaran Alloh l yang terdapat di alam semesta.

Alloh l berfirman:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS. Ali ‘Imran [3] : 190)

Dan dalam ayat yang lain Alloh l berfirman:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?. (QS. al-Ghosyiyah [88] : 17-20)

Ayat-ayat ini dan yang semisalnya mengingatkan kita agar memperhatikan tanda-tanda kebesaran Alloh l untuk menambah keimanan kita. Merenungi ayat-ayat kauniyah. Merenungi dan meneliti keadaan dan keberadaan makhluk-makhluk Alloh l yang beraneka ragam dan menakjubkan merupakan faktor pendorong yang sangat kuat untuk beriman dan mengokohkan iman.

Kedelapan: Berusaha sungguh-sungguh melaksanakan amalan sholeh dengan ikhlas, memperbanyak dan melanggengkannya. Hal ini karena semua amalan syariat yang dilaksanakan dengan ikhlas akan menambah iman. Karena iman bertambah dengan bertambahnya amalan ketaatan dan banyaknya ibadah.

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin v pernah menuturkan, “Di antara sebab pertambahan iman adalah melakukan ketaatan. Sebab iman akan bertambah sesuai dengan bagusnya pelaksanaan, jenis dan banyaknya amalan. Semakin baik amalan seseorang, maka semakin bertambah imannya. Baiknya pelaksanaan adalah dengan ikhlas dan mutaba’ah (mencontoh Nabi n). Sedangkan jenis amalan, maka yang wajib lebih utama dari yang sunnah dan sebagian amal ketaatan lebih ditekankan dan lebih utama dari yang lainnya. Semakin utama ketaatan tersebut maka semakin besar juga penambahan imannya. Adapun banyaknya amalan, maka akan menambah keimanan, sebab amalan termasuk bagian dari iman. Sehingga iman bertambah dengan bertambahnya amalan.”

Hendaknya seorang Muslim  bersungguh-sungguh untuk beramal sholeh dengan niat ikhlas kepada Alloh l  dan melakukannya secara berkesinambungan. Karena sesungguhnya setiap amal yang disyariatkan oleh Alloh l jika dikerjakan dengan niat ikhlas karena Alloh akan menambah keimanan. Keimanan bertambah seiring dengan bertambahnya ketaatan, dan semakin banyak ibadah akan semakin menambah keimanan seseorang.

Kesembilan: Senantiasa bersahabat dengan orang-orang yang sholeh, yang bisa mengingatkannya kepada akhirat, membuatnya tidak lalai dari mengingat Alloh l. Sesungguhnya sangat banyak sekali manfaat berteman dengan ahlul khoir  atau orang-orang yang sholeh. Ber-sahabat dengan mereka merupakan obat bagi hati dan penggugah jiwa dari kelalaiannya. Bermajelis dengan mereka akan menambah iman dan mendorong kepada kebaikan. Sebaliknya, teman yang fasik atau buruk sangat berbahaya bagi keimanan, akhlak dan agama seseorang. Karena itu Rosululloh n telah memperingatkan kita dari hal ini dalam sabda beliau:

 “Seorang itu berada di atas agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

Kesepuluh: Memperbanyak dzikir dan doa kepada Alloh l. Karena, dzikir adalah termasuk sebab yang paling penting untuk menjalin hubungan (komunikasi) antara seorang hamba dengan Robb-nya. Dzikir me-rupakan siraman yang bermanfaat bagi pohon keimanan yang ada di dalam hati. Ia juga menjadi ransum (makanan) yang bergizi bagi keimanan. Alloh l senantiasa mengingat hamba-hamba-Nya yang berdzikir menyebut asma-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

 “Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukur-lah kepada-Ku, dan janganlah kalian menging-kari (nikmat)-Ku.” (QS. al-Baqproh [2] : 152)

Rosululloh n bersabda meriwayatkan dari Robb-Nya l yang berfirman:
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, Aku bersamanya (dengan ilmu dan rahmat-Ku) bila ia mengingat-Ku. Bila ia meng-ingat-Ku dalam dirinya Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Bila ia menyebut nama-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutnya dalam perkum-pulan yang lebih baik dari mereka. Bila ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan bila ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.(HR. Bukhori dan Muslim )

Dengan berdzikir, hati seorang hamba akan menjadi tenang, tentram dalam ketaatan dan menjauhi ke-mungkaran.

Alloh l berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tentram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh-lah hati menjadi tentram.” (QS. ar-Ra’d [13]: 28)

Bahkan sejatinya dzikir itulah hakikat kehidupan hati.  Ia merupakan sumber energi, gizi dan nutrisi hati. Jika seorang kehilangan dzikir, maka ia tak ubahnya laksana seonggok raga yang tak berenergi. Hati tak punya kehidupan sama sekali, kecuali dengan mengingat Alloh l. Ibnu Taimiyyah v berkata, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan.”

Kesebelas: Memperbanyak ibadah nawafil (sunnah) setelah menjaga dengan benar-benar ibadah yang fardhu. Karena, ibadah-ibadah nawafil tersebut akan semakin menambah dekatnya seorang hamba kepada Robb-Nya. Ibadah nawafil termasuk ketaatan yang dicintai oleh Alloh l. Semakin bertambah ketaatan seseorang maka semakin bertambah pula keimanannya. Karena  itu tidaklah heran seorang hamba yang memakmurkan waktu-waktunya dengan beragam amal-amal nawafil seperti qiyamul lail (sholat malam), berdoa dengan tadharru’ di waktu sepertiga malam terakhir, berpuasa sunnah, bersedekah semampunya dan amal-amal lain niscaya ia akan merasakan nikmatnya iman dan kedekatan dengan Alloh l.

Kedua belas: Memperhatikan ibadah-ibadah yang termasuk dalam a’malul qulub (pekerjaan hati) seperti khouf (rasa takut kepada Alloh), mahabbah (mencintai-Nya), roja’ (berharap), tawakkal (menyandarkan hati kepada Alloh), dan sebagainya.

Ketiga belas: Menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya. Jika ia memiliki kekuasaan atau wilayah maka hendaknya melakukan amar ma’ruf nahi munkar tersebut dengan tangannya. Jika tidak memiliki kekuasaan untuk itu, maka hendaknya melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan lisannya. Sedangkan tingkatan yang terendah adalah membenci kemungkaran dengan hatinya.

Keempat belas: Berpaling dari majelis-majelis hiburan dan lahwu (yang tidak bermanfaat) seperti acara-acara televisi yang mungkar, lagu-lagu, bacaan-bacaan yang yang tidak Islami, dan tempat-tempat umum yang penuh ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan). Termasuk majelis kemungkaran yang perlu diwaspadai adalah internet. Seorang hamba yang ternoda dengan situs-situs keji niscaya imannya akan menyusut drastis. Sebaliknya, dengan berhati-hati dan menghindari itu semua, maka imannya akan tetap terjaga. Kita memohon kepada Alloh l  keselamatan dan perlindungan dari semua fitnah, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

Kelima belas: Ghodhdhul Bashor (menundukkan pandangan). Yang dimaksud dengan menundukkan pandangan di sini ialah menundukkan pandangan dari setiap yang haram. Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari yang haram karena  takut kepada Alloh niscaya Alloh akan menggantikannya dengan kemanisan iman yang dapat ia rasakan dalam hatinya. Alloh l  telah memerintahkan kepada segenap hamba-hamba-Nya yang beriman agar menundukkan pandangan mereka dari yang haram.

Alloh l berfirman:
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Alloh Maha mengetahui apa yang mereka perbuat’.”  (QS. an-Nur [24]: 30)

Keenam belas: Menahan diri dari banyak bicara, makan, tidur dan bergaul dengan manusia. Berlebihan dalam hal-hal di atas akan membuat hati seorang hamba menjadi keras dan luput dari berbagai keutamaan.

Di antara nasihat Atho’ bin Abi Robah v adalah, "Sesungguhnya orang-orang sebelum kita (yakni para sahabat Nabi n) tidak menyukai banyak bicara.’ Lalu sebagian orang bertanya, ‘Apa yang dianggap banyak bicara menurut mereka?’ Beliau menjawab, ‘Mereka menganggap bahwa setiap ucapan termasuk berlebih-lebihan melainkan dalam rangka membaca al-Kitab dan memahaminya, atau membaca hadits Rosululloh n  yang diriwayatkan dan harus diketahui, atau meme-rintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, atau berbicara tentang ilmu yang dengannya menjadi sarana taqarrub kepada Alloh l, atau engkau berbicara tentang kebutuhan ma’isyah (mata pencaharian) dan pekerjaan yang harus dibicarakan.’

Ketujuh belas: Melihat kepada orang yang lebih rendah dari kita dalam urusan dunia dan kepada yang lebih tinggi dari kita dalam urusan agama.
Rosululloh n bersabda:
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Alloh kepada kalian." (HR. Bukhori dan Muslim )

Demikianlah perkara-perkara yang dapat menambah iman. Mudah-mudahan dengan mengetahui perkara-perkara ini Alloh l  berkenan memberi taufiq kepada kita untuk lebih mengokohkan iman dan menyem-purnakannya.



[1] Yang dimaksud dengan fitnah oleh beliau adalah semua perkara yang bisa mengancam keselamatan iman. Fitnah-fitnah tersebut banyak sekali macamnya, akan tetapi secara umum bisa dibagi ke dalam dua golongan besar yaitu fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Syubhat artinya tersamarnya kebenaran. Sedangkan syahwat artinya hawa nafsu yang menyelisihi syari'at.



Tidak ada komentar

Silahkan mengcopy-paste, menyebarkan, dan membagi isi blog selama masih menjaga amanah ilmiah dengan menyertakan sumbernya.

Salam : Admin K.A.

Diberdayakan oleh Blogger.