Cinta dan Pengagungan Para Sahabat kepada Nabi Muhammad


Gambaran Cinta dan Pengagungan Para Sahabat kepada Nabi Semasa Hidup
Para Sahabat mendapatkan kemuliaan karena bertemu langsung dengan Nabi .

Mereka memiliki kesempurnaan cinta dan pengagungan yang mengungguli orang-orang selain mereka. Tidak ada dan tidak akan pernah ada orang-orang yang sesudah mereka yang menyamai cinta mereka.

Demikian pula perihal mereka dalam mengagungkan dan memuliakan beliau terlalu jelas untuk dijadikan sebagai bukti. Orang yang paling bagus dalam menyebutkan keadaan mereka tentang hal ini ialah ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi ketika ia berunding dengan Nabi   dalam perjalanan Hudaibiyah. Tatkala ia kembali kepada kaum Quraisy, ia berkata, “Wahai kaumku, demi Alloh, sungguh aku pernah menjadi delegasi yang diutus kepada para raja. Aku menjadi delegasi yang diutus kepada Kaisar, Kisra dan Najasyi. Demi Alloh, aku tidak pernah melihat seorang raja pun yang diagungkan oleh para Sahabatnya sebagaimana para Sahabat Muhammad mengagungkan Muhammad. Demi Alloh, tidaklah ia berdahak melainkan jatuh di telapak tangan salah seorang dari mereka lalu mengusapkannya pada wajah dan kulitnya. Jika ia memerintahkan kepada mereka, maka mereka segera melaksanakan perintahnya. Jika ia berwudhu, maka mereka berebut air wudhunya. Jika ia berbicara, maka mereka merendahkan suara mereka di sisinya, dan mereka tidak menatap tajam kepadanya karena mengagungkannya.”

Kondisi para Sahabat ketika sedang duduk dan mendengarkan Nabi   telah banyak diriwayatkan dalam banyak hadits dengan ungkapan dan gambaran yang menakjubkan. Di antaranya penuturan Abu Sa’id al-Khudri  , “Orang-orang diam seolah-olah ada burung di atas kepala mereka.”

‘Amr bin al-‘Ash   berkata:
 ))مَا كَانَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ  وَلاَ أَجَلَّ فِى عَيْنِى مِنْهُ، وَمَا كُنْتُ أُطِيقُ أَنْ أَمْلأَ عَيْنَىَّ مِنْهُ إِجْلاَلاً لَهُ، وَلَوْ سُئِلْتُ أَنْ أَصِفَهُ مَا أَطَقْتُ لأَنِّى لَمْ أَكُنْ أَمْلأُ عَيْنَىَّ مِنْهُ (( 

“Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rosululloh   dan tidak ada yang lebih mulia di mataku dibandingkan beliau. Aku tidak mampu menatapnya karena mengagungkannya. Seandainya aku ditanya, untuk menyebutkan kondisi beliau, tentu aku tidak sanggup, karena aku tidak pernah menatap beliau dengan tajam.”

Ketika Abu Sufyan mengunjungi putrinya, Ummu Habibah  , di Madinah dan masuk rumahnya, ia hendak duduk di atas permadani Rosululloh  , maka Ummu Habibah mencegahnya. Abu Sufyan berkata, “Wahai putriku, aku tidak tahu apakah kamu lebih mencintaiku daripada permadani ini ataukah kamu lebih mencintainya daripada aku?”. Ia menjawab, “Ini permadani Rosululloh  , sedangkan anda musyrik; maka aku tidak suka anda duduk di atas permadaninya.”

Di antara antusias yang kuat para Sahabat untuk memuliakan beliau dan tidak menyakitinya ialah pernyataan Anas bin Malik  , “Pintu Rosululloh   diketuk dengan kuku-kuku.” (HR. al-Baihaqi)

Ketika turun firman Alloh  :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalan kalian, sedangkan kalian tidak menyadari.” (QS. al-Hujurot [49]: 2).

‘Abdulloh bin az-Zubair   berkata, “’Umar tidak pernah memperdengarkan suaranya kepada Nabi   sesudah turun ayat ini, kecuali bila meminta penjelasan.”

Sementara Tsabit bin Qois  , orang yang suaranya sangat keras, pernah mengeraskan suaranya di sisi Nabi  , lalu ia duduk di rumahnya dengan kepala tertunduk karena dirinya merasa sebagai ahli neraka setelah turun ayat tersebut, sehingga Nabi   memberikan kabar gembira kepadanya dengan surga.  
BACA JUGA : TANDA-TANDA ORANG YANG MENGAGUNGKAN NABI MUHAMMAD SAW

Tidak ada komentar

Silahkan mengcopy-paste, menyebarkan, dan membagi isi blog selama masih menjaga amanah ilmiah dengan menyertakan sumbernya.

Salam : Admin K.A.

Diberdayakan oleh Blogger.