8 FAKTOR YANG MENYEBABKAN KITA SUKA MELAKUKAN AKHLAK TERCELA


Faktor Penyebab Akhlak Buruk

Munculnya akhlak buruk pada diri seseorang tidak terlepas dari beberapa faktor pemicu baik internal maupun eksternal, antara lain:

1.Tabiat manusia
Setiap manusia memiliki tabiat akhlak yang berbeda-beda. Di antara mereka ada yang mempunyai tabiat baik dan mulia. Ada juga yang bertabiat kasar, keji, dan tabiat buruk lainnya. Seseorang yang tabiat buruknya lebih dominan niscaya akan memberi pengaruh buruk pada dirinya sehingga menuntunnya kepada akhlak-akhlak yang buruk dan memalingkannya dari akhlak-akhlak yang mulia. Terlebih jika dia mengikuti tabiatnya dan tidak memperbaiki dirinya.

2.Pendidikan rumah serta lingkungan kemasyarakatan yang buruk
Seorang anak ibarat kertas putih yang siap kapan saja diisi dengan  aneka ragam tulisan dan warna. Pendidikan rumah dan lingkungan kemasyarakatan merupakan salah satu dari sekian banyak faktor yang akan mengisi hijau merahnya kertas tersebut, karenanya baik buruknya akhlak seseorang sangat bergantung pada pendidikan yang didapatnya di dalam rumah dan lingkungan kemasyarakatan sekitar.
Rumah merupakan sekolah yang pertama bagi anak-anak. Seorang anak akan mendapatkan pendidikan di rumah dan di tengah-tengah keluarganya terlebih dahulu sebelum beranjak menuju pendidikan sekolah dan kemasyarakatan,

Kedua orang tualah pemegang peran utama dalam pendidikan rumah. Seorang anak mengikuti ajaran kedua orang tuanya dalam meniti akhlak yang lurus sebagaimana kedua orang tuanya bertanggungjawab penuh pada kerusakan dan penyimpangan anak mereka.

Rosululloh   bersabda:
“Setiap anak yang dilahirkan berada di atas fithroh. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi atau seorang Nasroni atau seorang Majusi.” (HR. al- Bukhori dan Muslim)

Apabila seorang anak berada pada pendidikan rumah yang buruk dan pada perkara-perkara yang jelek, niscaya anak tersebut akan tumbuh dan berkembang dengan kepribadian dan akhlak yang buruk pula. Bahkan, pendidikan seperti ini akan mematikan benih-benih tabiat baik dan potensi kepribadian yang mulia yang ada di dalam dirinya.

Orang tua yang memiliki ahklak buruk dan tidak mempunyai keperibadian kuat, maka pada umumnya akan diikuti oleh anak-anaknya.  Terlebih anak-anak akan mewarisi tabiat kedua orang tua mereka sebagaimana mereka mewarisi bentuk fisik mereka.

Begitu juga dengan lingkungan kemasyarakatan. Ia memberikan andil yang sangat besar dalam membentuk baik buruknya akhlak seseorang. Jika seseorang tumbuh besar pada lingkungan yang sholih, dari rumah yang baik dan sekolah yang memberi perhatian kepada agama dan akhlak murid-muridnya, niscaya anak tersebut akan tumbuh dengan akhlak yang baik pula, dan terjauhkan dari akhlak yang rendah dan tidak terpuji.
Alloh   berfirman: 

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Alloh; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (QS. al-‘Arof [7]: 58)

3.Salah memilih teman bergaul 
Sahabat mempunyai pengaruh yang kuat bagi pribadi seseorang karena seorang sahabat akan menuntun tabiat, akhlak dan agama seseorang. Oleh karena itu, Islam menempatkan seorang sahabat sebagai standar baik buruknya agama seseorang.

Rosululloh   bersabda:
“Seseorang tergantung pada agama temannya, maka hendaklah diantara kalian memilih siapa yang dijadikan teman.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmizdi dan lain-lain)
Hal ini karena barang siapa yang duduk dengan orang-orang yang buruk dan bergaul dengan mereka, maka pastilah dia akan terpengaruh dan akan mengadopsi akhlak mereka. Setiap kali dia berkeinginan untuk mengarah kepada perbaikan dengan menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, dan berlepas  dari akhlak yang buruk, maka mereka akan senantiasa mempengaruhinya dan memalingkannya hingga diapun akan kembali kepada penyimpangannya dan terus berkelanjutan di atas kebodohan dan kepandirannya.  

BACA JUGA : 10 AKHLAK BURUK YANG SERING TERJADI DI KEHIDUPAN KITA, ANDA TERMASUK YANG MANA ? 

4.Hawa nafsu
Setiap manusia pasti memiliki hawa nafsu, dan pada dasarnya hawa nafsu itu tidaklah tercela, karena dengannyalah manusia dapat melangsungkan kehidupannya di dunia ini. Namun, hawa nafsu cenderung tercela dan identik dengan hal-hal negatif karena kebanyakan manusia sering menjadi budak hawa nafsunya, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, seseorang yang tidak dapat menundukan hawa nafsunya dan cenderung mengikuti serta mengedepankannya, nicaya akan menjerumuskannya pada kerusakan akhlak dan kerendahan jiwa.
Alloh   berfirman:

5.Kurangnya saling menasihati atau sombong dan tidak mau menerima nasihat
Nasihat yang baik dari orang lain ibarat cermin bagi diri kita. Dia akan menunjukan kepada kita sisi-sisi positif dan negatif yang ada pada diri kita karena terkadang seseorang lalai dan tidak ada waktu untuk mengevaluasi perilaku akhlaknya. Semakin banyak seseorang menerima nasihat dan kritikan yang membangun, niscaya dia akan semakin tahu celah-celah kekurangan yang ada pada dirinya dan berusaha untuk memperbaikinya. Sebaliknya, jika seseorang sombong dan menganggap dirinya sempurna sehingga mencukupkan dirinya dari nasihat orang lain, niscaya dia tidak akan menemukan sesuatu yang akan mengarahkannya kepada perbaikan dan mengangkatnya dari perilaku-perilaku yang buruk.

6.Minimnya rasa malu
Rasa malu merupakan salah satu sifat yang terpuji yang akan mendorong kepada perilaku yang mulia dan meninggalkan perilaku yang buruk. Manusia yang rendah rasa malunya niscaya akan rendah pula budi pekertinya. Hal  ini dikarenakan rasa malu adalah salah satu benteng yang dapat menjauhkan seseorang dari perilaku buruk. Apabila rasa malu telah berkurang pada diri seseorang, maka dia tidak akan memperdulikan tinggi rendah harga dirinya sehingga dia akan berperilaku sesuka hatinya.

7.Lalai dari aib yang ada pada dirinya
Banyak di antara manusia yang lalai dan enggan untuk bermawas diri, memperhatikan letak-letak kekeliruan dan kekurangan-kekurangan yang ada pada diri mereka. Bahkan kebanyakan dari mereka terlalu berbaik sangka dan memberikan penyucian diri dengan perkataan atau perbuatan, seakan-akan dirinya adalah sosok manusia sempurna yang terjaga dari segala betuk kekurangan dan keburukan.

Apabila mereka mendengar adanya akhlak yang baik, dengan serta merta mereka menyandarkan pada dirinya, seolah-olah merekalah yang paling berhak menjadi penyandang akhlak tersebut. Namun sebaliknya, apabila mereka mendengar akhlak yang buruk, maka mereka menisbatkan akhlak tersebut kepada orang lain dan beranggapan bahwa dirinya tidak pernah memilikinya dan seakan-akan dia telah selamat dan terlepas dari akhlak buruk tersebut.

Fenomena seperti ini sangat tidak pantas bagi orang yang hendak meraih kesempurnaan diri, karena hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang tidak membolehkan kita untuk berperilaku sombong  dan mentazkiyyah diri (menganggap dirinya bersih) dari segala keburukan.  Selain itu, fenomena seperti ini juga sangat berbahaya bagi pribadi seseorang karena hal ini dapat mewariskan kekaguman pada diri sendiri dan ridho dengan kekurangan-kekurangan yang ada di dalam dirinya sehingga tidak ada upaya baginya untuk mengobati dan memperbaiki apa-apa yang menjadi kekurangannya.

Ibnu al-Mukaffi’   berkata: “Aib terbesar yang ada di dalam diri pada diri seseorang adalah ketika aibnya tersembunyi darinya. Karena apabila aibnya tersembunyi darinya maka demikianpula kebaikan orang lain niscaya akan tersembunyi darinya. Dan bagi siapa yang aib dirinya dan kebaikan orang lain tersembunyi darinya, maka dia tidak akan bisa terbebaskan dari aib yang tidak diketahui olehnya, dan tidak akan pernah meraih kebaikan orang lain yang selamanya tidak dapat dilihat olehnya.”

Mahmud al-Warroq   juga berkata: “Manusia yang paling sempurna adalah manusia yang paling mengetahui kekuranganya dan yang paling bisa mengekang hawa nafsunya.”

8.Minimnya memikirkan alam akhirat
Memperbanyak mengingat alam akhirat merupakan salah satu sifat yang Alloh   berikan kepada para Nabi  .
Alloh   berfirman: 
“Sesungguhnya kami mensucikan mereka dengan akhlak yang luhur yaitu  mengingat kampung akhirat.” (QS. Shod [38]: 46)

Mengingat dan memikirkan alam akhirat merupakan salah satu faktor yang dapat menggerakkan seseorang untuk senantiasa berperilaku baik dan sesuai dengan tuntunan agama. Karena seseorang yang senantiasa mengingat alam akhirat akan merasa bahwa segala perbuatannya itu akan ada balasannya kelak di hari kiamat, sehingga dia akan senantiasa berhati-hati dalam berbuat, berperilaku serta berinteraksi dengan mayarakat sekitar.

Berbeda dengan orang yang jarang atau tidak pernah memikirkan alam akhirat. Baik buruknya segala perbuatan  akan ia nilai dengan kepuasan dan hawa nafsunya. Dia tidak peduli melakukan perbuatan dan perilaku seburuk apapun, karena yang penting dirinya telah mendapatkan kepuasan. Karenanya, orang seperti ini jarang dapat menaiki tangga perbaikan dan kemuliaan.


Tidak ada komentar

Silahkan mengcopy-paste, menyebarkan, dan membagi isi blog selama masih menjaga amanah ilmiah dengan menyertakan sumbernya.

Salam : Admin K.A.

Diberdayakan oleh Blogger.